Minggu, 04 Oktober 2020

GAYA BUSANA RASUL

*EDISI CINTA RASUL*

*Style Pakaian Rasulullah  _Shallallahu Alaihi wa Sallam_*

Sudah menjadi kewajaran jika kita mencintai seseorang maka kita akan terinspirasi oleh cara berpikir dan gaya hidupnya, begitupun jika kita cinta dengan Rasulullah _Shallallahu Alaihi wa Sallam_ maka beliau menjadi teladan dan idola kita.

Para ulama  berpendapat jika kita mengikuti hal-hal yang masuk kategori sisi manusiawi Rasulullah akan menambah ingatan dan kecintaannya dengan Rasulullah _Shallallahu Alaihi wa Sallam_.

Salah satu sisi manusiawi Rasulullah yang bisa kita ikuti adalah style pakaian beliau. Prinsip berpakaian yang menjadi kebiasaan Rasulullah _Shallallahu Alaihi wa Sallam_ adalah jika mengenakan pakaian harus menutup aurat dan bermanfaat buat tubuhnya, maka beliau memilih yang terbaik, bagus, rapih dan sesuai, tidak terlalu longgar dan tidak juga sempit, tidak glamour, berlebihan dan bersikap sombong apalagi untuk menarik pujian manusia.

Pakaian bagus dan rapih Rasulullah lebih dimotifkan karna Allah _Azza wa Jalla_ menyukai keindahan dan kebersihan.

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan beberapa style pakaian Rasulullah _Shallallahu Alaihi wa Sallam_;

1. Pakaian berlengan panjang, panjangnya tidak melewati pergelangan tangannya. Diameter lingkar tangannya tidak terlalu lebar dan atau pun sempit, sehingga bisa bergerak dengan leluasa.

2. Karakter ujung pakaian gamis atau sarung Rasulullah (atau celana panjang di zaman sekarang) biasa sampai di tengah betis, jika dipanjangkan beliau biasanya tidak melebihi mata kakinya. Style ini lebih sesuai untuk menutupi betis beliau saat musim dingin atau panas. 

Adapun bagi perempuan style yang dianjurkan adalah memanjangkannya sampai menutup mata kaki bahkan hingga tapak kakinya.

3. _Imamah_, serban yang dililitkan ke kepala beliau tidak terlalu besar hingga memberatkan kepala, juga tidak terlalu kecil, beliau mengukurnya sekedar untuk menghalangi rasa dingin di musim dingin atau panas di musim panas di kepalanya.

4. Adapun soal warna pakaian pavorit Rasulullah _Shallallahu Alaihi wa Sallam_ adalah warna putih dan hijau.

#Mukhlis Mukti Al Mughni

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى اله و صحبه

*Salam dari Masjid Cut Meutia, Jakarta*

Minggu, 20 September 2020

pribahasa Banjar

Paribasa dan Ungkapan Banjar, Refleksi budaya oleh Noorhalis Majid

DASAR AJALNYA

semuanya mungkin saja berubah bila ada keinginan

Sudah seperti itu keadaannya, aslinya, bawaan dasarnya, tidak bisa diubah lagi. Bisanya hanya dipahami, dimengerti, agar tidak terjadi masalah atau pun persoalan. Karakter, sifat, bila sudah mendarah daging, dianggap mendasar, sulit diubah. Karena sulit diubah, disebut dasar ajalnya.
 
Ajal, adalah akhir dari umur. ketentuanNya tidak dapat diubah. Setiap yang hidup pasti mati, satu kepastian yang tidak dapat ditolak. Siapapun, betapapun kayanya seseorang, atau setinggi apapun jabatannya, tidak dapat melawan ajal, takdir kematian. Pada waktu yang sudah ditentukan, ajal menjemput setiap orang tanpa mampu dihindari atau ditolaknya. Bahkan menunda sedetik pun tidak akan mampu.

Ajal yang tidak dapat diubah lagi tersebut, dipinjam untuk mengiaskan sifat seseorang yang tidak mau berubah. Padahal sifat, karakter, sangat mungkin diubah, bila yang bersangkutan mengubahnya. Kalau memiliki sifat bawaan pelit, bisa saja dilatih untuk dermawan, solider dan pandai berbagai. Semuanya mudah dilakukan, asal ada kemauan. Begitu pula sifat lainnya, seperti pemalas, dan lain sebagainya.

Ungkapan ini menyindir yang tidak mau mengubah sifat buruknya. Walau sudah dinasehati, diberkan petunjuk dan arahan, tetap saja tidak berubah. Akhirnya dengan segala kekesalan, keluarlah ungkapan dasar ajalnya. 

Bahwa hanya ajal yang tidak bisa diubah, sifat dan karakter, bagaimana pun kerasnya,  sangat mungkin berubah. Ketika tidak mau mengubah yang bisa diubah, maka sama dengan ajal. Hanya berubah bila ajal menjemputnya. 

Satu sindiran yang sangat pedas, manakala sifat dan karakter disejajarkan dengan ajal. Mestinya lentur, adaptif terhadap situasi dan kondisi. Tidak keras seperti batu. Pengetahuan, pengalaman dan ilmu yang dimiliki, membentuk sifat yang keras menjadi lemah lembut, arif dalam bertindak, bersikap. 

Semakin tinggi ilmu, semakin berpengetahuan, lajimnya arif dan bijaksanakan segala tindakan.  Bila tidak ada perubahan, berarti ilmu tidak memberi pengaruh pada diri, pada sikap dan tindakan. Ilmu tereduksi hanya menjadi informasi. Sekedar tahu, tidak menjadi amalan. Manakala tidak ada perubahan, jangan salahklan bila dikritik dengan ungkapan, dasar ajalnya. (nm)

Sabtu, 19 September 2020

MANYALANG GAWIAN oleh Noorhalis Majid

 Paribasa dan Ungkapan Banjar, Refleksi budaya oleh Noorhalis Majid

MANYALANG GAWIAN

memanfaatkan waktu, cerdas bermanfaat
Menyisipkan waktu, sesuatu, kesempatan, dari pekerjaan yang sedang dilakukan. Mengambil celah waktu bekerja, untuk mengerjakan yang lain. Sebabnya karena ada hal mendesak diselesaikan, sementara waktu dan perhatian sudah dikapling mengerjarkan satu tugas tertentu.  Tidak ada pilihan, kecuali mengambil kesempatan celah waktu untuk mengerjakannya. Begitulah gambaran manyalang gawian.

Dari kata salang, menjadi manyalang, artinya simpang, menyimpang. Gawian, yaitu kerjaan. Manyalang gawian, menyimpangkan waktu untuk mengerjakan yang lain. Atau menyimpangkan gawian untuk mengerjakan gawian yang lain.

Tidak mudah mampu menyimpangkan waktu, atau mengambil celah waktu mengerjakan pekerjaan lain dari yang sedang dikerjakan. Apalagi bila pekerjaan pokok tersebut juga diberi target waktu penyelesaian. Sehingga sangat sulit waktunya disisihkan untuk yang lain. Namun kenyataannya bisa dilakukan. Buktinya, ada ungkapan yang menggambarkan hal tersebut dapat dilakukan.

Sedang memperbaiki kendaraan karena bekerja sebagai montir di sebuah bengkel. Tiba-tiba, saat masih proses memperbaiki mesin, perlu waktu mengeringkan olie agar benar-benar kering pada mesin. Celah waktu tersebut dimanfaatkan memperbaiki pipa yang bocor di rumah. Tidak perlu banyak waktu, hanya sebentar, seperti lamanya waktu menunggu olie menetes hingga kering pada mesin.

Bisa pula saat bekerja menjahit pakaian, karena sebagai tukang jahit. Dicelah waktu hingga date line selesainya pesanan belum berakhir, sambil membuat kue untuk pesanan kue ulang tahun. Karena sangat piawai membagi waktu, kedua pekerjaan tersebut diselesaikan dalam waktu bersamaan. Tidak ada yang dirugikan, karena baju juga selesai pada waktu dijanjikan.

Seorang yang multitalenta, mampu mengerjakan dua atau tiga pekerjaan berbeda pada satu waktu. Bukan hanya mampu melakukan pekerjaan tersebut, tapi juga mampu mencari celah waktu, sehingga semuanya bisa diselesaikan pada waktu bersamaan dengan jenis pekerjaan berbeda. Kepandaian mencari celah waktu ini yang sangat luar biasa.

Ungkapan ini menggambarkan, bahwa orang banjar terbiasa multitalenta, atau memiliki banyak kemampuan. Mengerjakan yang beragam, dan mengatur waktu. Tidak ada yang  kosong, semuanya diisi menjadi sangat bermanfaat, sehingga memperoleh hasil. Pandai mengambil  celah waktu, manyalang gawian, agar padat bermanfaat. (nm)

TINGKAT DEWA SENI LUKISNYA


 

Kamis, 17 September 2020

PRIBAHASA BANJAR

Paribasa dan Ungkapan Banjar, Refleksi budaya oleh Noorhalis Majid

BAKANTI

Janjian, bersekongkol, bersepakat, bermufakat, dan lain-lain yang menggambarkan kerjasama diam-diam, tidak terbuka, untuk tujuan tertentu yang menguntungkan para pihak yang terlibat dalam kesepakatan tersebut. Begitulah kira-kira yang dimaksud bakanti.

Kanti artinya kawan, teman. Bisa pula orang yang menemani, penggiring. Bakanti, berarti berkawan. Makna dalam bahasa banjar, bukan sekedar berkawan, tapi bersekongkol. Ada isyarat-isyarat yang disepakati dalam persekongkolan tersebut, hanya yang terlibat yang tahu dan paham, hingga maksud dan tujuan persekongkolan tercapai.

Pernahkah mendengar skandal persekongkolan sepak bola? Beberapa tim bersekongkol bersama wasit dan panitia. Tim yang terlibat persekongkolan lalu main sabun. Pura-pura main sepak bola, padahal main judi. Skornya sudah ditentukan. Siapa yang menang dan siapa yang  kalah sudah diatur. Berapa menangnya dan berapa selisih goalnya bahkan sudah disepakati. Semuanya sudah datur, ditentukan di bawah meja. Maka semua yang terlibat dalam persekongkolan tersebut, sudah membuat beberapa kesepakatan, termasuk mengatur menit permenit permainan, sudah bakanti satu dengan lainnya.

Ungkapan ini awalnya untuk menggambarkan persekongkolan kecil, sekedar memuluskna tujuan. Masin-masing orang memainkan perannya, sebagamana skenario yang sudah disusun. Agat tujuan tercapai dengan mudah. 

Kemudian bakanti, juga dipakai untuk memainkan praktik-praktik besar seperti Pemilu atau Pilkada. Mengatur, memuluskan tujuan pemenangan. Misalnya, dari pada calon tunggal, hanya melawan kotak kosong dan malu kalau kalah. Lebih baik melawan “boneka”, calon pura-pura yang pasti kalah. Semua yang terlibat, mulai dari calon, partai pengusung, tim pemenangan, penyelenggara, semua bakanti, menyusun skenario, berpura-pura bertarung, nyatanya praktik persekongkolan menipu pemilih.

Memang tidak selalu untuk tujuan jahat. Agar tujuan baik cepat tercapai, bisa saja para pihak bakanti, memuluskan capai tujuan baik. Misal, ada orang yang kurang disukai, karena arogan, sangat bernafsu menjadi pimpinan, untuk tujuan pribadi dan kelompoknya. Agar tidak terpilih, maka orang-orang baik bakanti tidak memilik yang bersangkutan. Akhirnya, memang tidak akan terpilih.

Persekongkolan untuk tujuan jahat, harus dilawan oleh persekongkolan dengan tujuan baik. Caranya, mengorganisir semua tujuan baik, dengan cara yang baik, oleh orang-orang baik yang siap bakanti. (nm)

Jumat, 11 September 2020

DHUAFA TETSENYUM ABIE AUDAH

Jl. Sultan Adam RT 14 RW 002 Ruko kav 03 (7Depan Komp Kadar Permai 1, Sungai Miai, Kec. Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70122

Senin, 07 September 2020

DARAH BANJAR

Darah Pemimpin Banjar

Mu'allim Abdul Qadir, Syekh Ahmad, Tuan Guru H. M. Ramli (H. Walad) dan KH. Ahmad Makkie

Mu'allim Abdul Qadir

Mu'allim Abdul Qadir atau Tuan Guru H. Abdul Qadir lahir di Sungai Banar, Amuntai, sekitar tahun 1830 dan terkenal sebagai ulama besar yang sangat luas pengetahuannya terutama tentang ilmu agama, dihormati dan disegani masyarakatnya. Pengajian-pengajian dan dakwahnya tidak hanya di Kalimantan Selatan saja, tapi sampai menyebrang ke Kalimantan Timur. 

Setelah sekian lama melaksanakan pengajian dan dakwah, kenyataan menunjukkan bahwa kebutuhan Kalimantan Timur terhadap ulama-ulama seperti dirinya jauh lebih besar, maka dia berangkat dan aktif berdakwah di sana. Masyarakat serta raja-raja di sana waktu itu sangat menyukainya dan aktif mengikutinya sampai akhirnya Raja Pasir beserta rakyatnya masuk agama Islam. Dia diberi rumah di Selorong dan kemudian menetap di sana sampai akhir hayat. Sedangkan pengajian di Sungai Banar dilanjutkan oleh putera beliau sendiri yang bernama Syekh Ahmad atau Mu'allim Ahmad atau Tuan Guru H. Ahmad.

Syekh Ahmad

Syekh Ahmad atau Mu'allim Ahmad putera Mu'allim Abdul Qadir diberangkatkan ke Makkah untuk menuntut Ilmu. Di Makkah beliau tinggal di Kampung Syamiah dekat Masjidil Haram. Beliau sempat mengajar beberapa murid orang Banjar antara lain Mu'allim Muhammad Imran, Mu'allim Janawi, Mu'allim Ahmad Hasan (Amuntai), Tuan Guru H. Bijuri (Tanjung), Tuan Guru H. Jamaluddin (Nagara), Tuan Guru H.M. Nawawi dan Tuan H. Mukeri (Birayang).

Beliau kawin di Makkah dengan wanita asal Turki dan memperoleh anak laki-laki yang diberi Muhammad Ramli yang sehari-harinya dipanggil Walad yang berarti anak kesayangan. Tahun 1936. Beliau kembali ke Indonesia melalui India dan sempat tinggal di Malaysia. Sesampai di Indonesia, kemudian beliau kawin dan sempat tinggal di Tanjung Batu (Kotabaru), Kalimantan Selatan dan dikaruniai seorang anak perempuan bernama Basnah. Lalu ke Tanah Grogot, Kalimantan Timur, beliau kawin lagi dengan Hj. Maimunah, dan kembali ke Amuntai, menetap di Sungai Banar. Perkawinan beliau dengan Hj. Maimunah memperoleh 7 orang anak yang bernama Hj. Rahmah, Hj. Sa'diyah, Hj. Rukaiyah, Hj. Zubaidah, Hj. Fatimah, Muhammad Sibeli dan Aliah. 

Di sana beliau mendirikan Balai atau Langgar Baloteng (Langgar Tingkat Dua). Di bagian atas digunakan untuk sembahyang dan tempat belajar sedangkan bagian bawah dijadikan asrama. Banyak para murid beliau yang belajar di sana, salah dua di antaranya adalah Tuan Guru H. Abdurrasyid (Mu'allim Wahid atau Muassis Rakha, Amuntai) dan Tambi Sinar (orang Dayak Kapuas, Ayah H. Syafriansyah PPP). Beliau juga bergelar Tuan Guru Jukung Putih karena saat pergi mengajar atau ke masjid beliau menggunakan perahu kecil (jukung) berwarna putih. Balai yang dibangun pada tahun 1940 di Sungai Banar sampai kini masih berfungsi sebagai Langgar, sedangkan kegiatan belajar-mengajar dilaksanakan Madrasal Nurul Hidayah tidak jauh dari Balai.

Tuan Guru H. Muhammad Ramli (H. Walad)

Guru H. Walad atau Tuan Guru H. Muhammad Ramli. Beliau dilahirkan sekitar tahun 1901, di kampung Syamiah Makkah, dari pasangan Mu'allim Ahmad Sungai Banar, Amuntai dengan wanita keturunan Turki. Di Makkah beliau di samping berhaji dan menuntut ilmu, sempat pula sambil jadi sopir. Pada suatu hari beliau mendapat penumpang yang dipanggil dengan Walad oleh sang ayah. Mereka singgah di suatu tempat yang kemudian diketahui
sebagai makam sembilan orang syuhada. Di sanalah dia mendapat petunjuk untuk mengaji dan berhenti menjadi sopir.Di Makkah dia sempat menikah dengan seorang perempuan 
Arab yang kemudian melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Chadijah.Sekitar tahun 1936, H. Walad kawin dengan seorang janda di Birayang yang kemudian melahirkan tujuh bersaudara, semuanya laki-laki, yaitu Ahmad Makkie, Ahmad Madani, Ahmad Hijazi, 
Ahmad Yamani, Ahmad Kan’ani, Ahmad Masri (meninggal sewaktu bayi) dan Ahmad Bugdadi. 

Pada tahun 1946 H. M. Ramli alias H. Walad ikut berjuang mengangkat senjata melawan penjajah Belanda. Beliau berpangkat Letnan Satu dengan jabatan Kepala Departemen Kehakiman di Markas Besar ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan. Pada tahun 1950 dia berhenti jadi tentara dan kembali mengajar agama dari kampung ke kampung. Pada tahun 1966 dia berangkat ke Makkah dan berhasil 
berjumpa dengan anaknya Chadijah, yang telah bersuami dan mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Maram, kini sebagai guru di Madinah. Suami Chadijah yang berkebangsaan Sudan bernama Ihsan Radadi bekerja di perusahaan penerbangan Saudia. H. Walad ayah dari H. Ahmad Makkie ini, sempat 
dipertemukan oleh anaknya Chadijah dengan mantan isterinya (ibu Chadijah) tapi hanya berbicara di balik tabir. Beliau meninggal dunia di Surabaya dalam perjalanan kembali ke tanah suci dalam usia 80 tahun. Jenazah beliau dimakamkan di samping makam ayah beliau H. Ahmad di Sungai Banar, Amuntai Selatan. 
Sebelum meninggal ia sempat menulis risalah sifat dua puluh “Aqidatul Iman”. Risalah itu ia sebarkan melalui aktifitas dakwah yang dilakoninya sampai akhir hayatnya.

KH. Ahmad Makkie BA

KH. Ahmad Makkie, BA, bin Tuan Guru H. Muhammad Ramli (Guru H. Walad) bin Syekh Ahmad bin Mu'allim Abdul Qadir . Beliau lahir di Lok Besar, 21 April 1938 – meninggal di Banjarmasin, 27 Januari 2016 pada umur 77 tahun adalah tokoh Kalimantan Selatan. Beliau pernah menjabat sebagai bupati Tapin selama dua periode, yakni tahun 1983–1988 dan 1988–1993. Pendidikan terakhir Sarjana Muda IAIN Antasari tahun 1968. Ia juga pernah menjadi anggota DPD RI periode 2004-2009 dan ketua MUI Kalsel.

Dalam kegiatan berkesenian, ia menekuni seni drama (teater) dan seni baca Al-Qur'an. Pada tahun 1960-an ia dikenal sebagai Qari Terbaik mewakili Kalimantan Selatan pada Konferensi Islam Asia Afrika. Diawali pada Pekan Kesenian di Amuntai tahun 1971, Ahmad Makkie mulai aktif dalam Dewan Kesenian Daerah Kalimantan Selatan. Namun setelah ia terpilih menjadi Ketua KNPI Kalimantan Selatan pada tahun 1979, perhatiannya lebih tercurah pada bidang kepemudaan dan politik sampai ia terpilih dan diangkat jadi Bupati Tapin pada tahun 1983. Selama 10 tahun bertugas di Kabupaten Tapin, H. Ahmad Makkie terpanggil untuk menggali serta mengembangkan karya-karya seni tradisional seperti Musik Panting dan lagu-lagu daerah. Untuk itu pada tahun 1987 ia mendapat Penghargaan dari Gubernur Kalimantan Selatan sebagai Pembina Seni, atas usul DKD Kalimantan Selatan. Lagu Hari Jadi Kabupaten Tapin yang berjudul Bastari dan lagu Delapan Sukses yang dimainkan dengan Musik Panting adalah merupakan ciptaan H. Ahmad Makkie yang sampai sekarang masih dikumandangkan pada setiap Peringatan Hari Jadi Kabupaten Tapin.

Dalam Musyawarah Seniman III tahun 1998 ia terpilih kembali sebagai Ketua Dewan Kesenian Daerah Kalimantan Selatan untuk kedua kalinya. Di samping itu ia masih menyandang setumpuk tugas di berbagai organisasi kemasyarakatan, diantaranya Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an, BAZIS, GUPPI, Badan Kerjasama Pondok Pesantren, Majelis Ulama Indonesia, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, dan juga Lembaga Budaya Banjar. Di bidang pendidikan ia aktif di berbagai yayasan, antara lain Yayasan Pondok Pesantren RAKHA Amuntai, Yayasan Mu'awanah Rantau, Yayasan Pondok Pesantren Bustanul Ma'mur, yayasan ORBID ICMI, Yayasan Khadimul Ummah, disamping sebagai Anggota Dewan Penyantun di IAIN dan UNISKA (Universitas Islam Kalimantan Syekh Muhammad Arsyad Albanjari). Di pemerintahan daerah, ia pernah menjabat Kepala Biro Humas Pemda Tingkat I Kalsel.

Terlihat di sini darah pemimpin, orang besar dan tokoh terus mengalir dari Mu'allim Abdul Qadir, terus ke Syekh Ahmad, lalu ke Tuan Guru H. Muhammad Ramli (Guru H. Walad), kemudian ke KH. Ahmad Makkie dan berikutnya kemungkinan kepada anak-anak beliau salah satunya H. Abdul Haries Makkie ketua PWNU Kalimantan Selatan.