Senin, 09 Maret 2020

Nasi Bungkus VS Selfi

"TAMPARAN KERAS SAAT BERBAGI NASI BUNGKUS"

ASTAGHFIRULLAH...
Jangan sampai kedermawanan kita menyakiti  sesama 😭😭😭😭

Ceritanya begini,
Bapak ini, pengangkut sampah.
Saat kuhampiri dan kutawarkan nasi
Beliau dengan sumringah mengucap syukur.

Lalu ia berkata,
“Dipoto ( selfie ) dulu mba,”!!!

Deg.
Padahal aku tak berniat memotonya, krn posisi berhenti kami persis di depan jalan..

“Pak, maaf ya kalau menyinggung bapak.”

“Ga apa-apa mba, kalau orang miskin dapet nasi aja seneng. Walaupun jadi ga punya muka.”

Ya Rabb..
Faghfirlii
Faghfirlii..

Lantas aku duduk menemaninya.

Berceritalah dia.
Dulu, saat awal-awal ada yang bagi nasi ia sangat malu ketika harus difoto. Bahkan sempat tersinggung dengan seseorang yang memberi nasi bungkus dgn cara waktu menerima nasi bungkus harus menghadap ke camera untuk di poto

Namun seiring waktu, perut ternyata lebih penting dari ego.

Ia tak lagi berkeberatan difoto bersama pemberi nasi bungkus dan tak juga mempermasalahkan harus menghadap ke camera

Asalkan sebungkus nasi bisa mengganjal perutnya.

“Ya mba, kalo dapet nasi kan bapak bisa nyisihin 10 ribu buat dibawa pulang.” Katanya sambil menyuap nasi bungkus.

Ya Allah.... 

Jangan sampai kedermawanan membuat kami lalai. 
Jangan sampai sebungkus nasi merendahkan mereka..
Jangan sampai hati mereka terluka.
Jangan sampai kesombongan mampir di benak kita saat memberikan nasi😒

 Pak... 
Doakan saya dan teman-teman  agar bisa  berbagi tanpa melukai ya pak.
Doakan kami agar bisa berbagi namun tetap menghargai❤️

Karena sungguh, kita sedang memperjuangkan surga.
Jangan sampai, perjuangan ini ternoda dan kita tergelincir bersama dalam kobaran api neraka.

Naudzubillah tsumma naudzubillah 

Doakan kami ya, teman-teman agar selalu lillah dalam perjuangan ini.
Dan aku pun selalu mendoakan teman-teman, agar Allah luaskan rezekinya untuk terus membersama dalam ikhlas bersedekah πŸ™πŸ™πŸ™

Allah yubaarik fiikum ... 

*Intinya saat Tangan Kanan kalian memberi, Tangan Kiri jangan selfi ... πŸ™πŸ™πŸ™

#copas

ABIE AUDAH. PERSIAPAN SHOTING JEJAK ISLAM TVRI KALSEL

Minggu, 08 Maret 2020

Pribahasa Banjar

Paribasa banjar, refleksi budaya oleh noorhalis majid

KATIWASAN

Dari kata tiwas, menyalahkan. Maka katiwasan berarti ditimpakan kesalahan, walau belum tentu berbuat salah. Suatu peristiwa, seringkali harus ditentukan siapa yang bertanggung jawab. Kalau itu dianggap suatu kesalahan, siapakah pelaku kesalahan tersebut. Agar bertanggungjawab atas kesalahan yang dilakukan. 

Maniwas, berarti menuduh berbuat salah atau menimpakan satu kesalahan kepada seseoramg. Bisa pula mencari kambing hitam. Menuduh yang dapat disalahkan. Tentu saja belum tentu benar. Mungkin saja hanya fitnah, korban dari kambing hitam. Karenanya harus dibuktikan dengan pembuktian yang cermat.

Maniwas, menjadi satu kebiasaan yang buruk. Ketika tidak mampu melakukan, bukan menyalahkan diri sendiri dan mencari tahu kenapa sampai tidak mampu, tapi justru sibuk mencari kesalahan pada orang lain.

Kebiasaan maniwas, bentuk sifat kerdil, picik. Tidak berbesar hati menerima satu kesalahan. Tidak lapang dada mengakui kelemahan diri. Padahal, apa susahnya mengakui kelemahan atau kesalahan, setelah itu meminta maaf dan menerima segala koreksi serta masukan. Hanya karena gengsi, ego yang sangat besar, tidak ingin kehilangan muka, akhirnya mempertahankan kesalahan, cermin kebodohan. 

Sifat suka maniwas, menyalahkan, mencari kambing hitam, biasanya yang menjadi korban, atau tertuju pada orang yang dianggap lemah, tidak mampu membela diri. Dengan maniwas, maka selanjutnya menghujaninya dengan berbagai caci maki yang menyudutkan.
 
Orang yang ditiwas, dinamakan katiwasan. Nasib sial, atau bisa pula dimaknai sebagai ujian atau fitnah yang harus ditanggungnya. Bila diterima dengan lapang dada, sembari terus membuktikan bahwa hal tersebut tidak benar, maka waktu akan menunjukkan bahwa yang dituduhkan merupakan fitnah murahan. 

Ungkapan ini satu peringatan, bahwa sekalipun kita tidak berbuat salah, bila berada pada posisi lemah, akan mudah disalahkan. Apalagi kemampuan membela diri juga lemah. Baik karena posisi sebagai bawahan, orang yang terdiskriminasi, pihak yang lemah tidak berani melawan, dan lain sebagainya, membuatnya mudah ditiwas, menjadi katiwasan. 

Pada posisi yang sangat lemah, harus lebih waspada, cermat, jangan memberi celah untuk mudah disalahkan. Karena kambing hitam sering kali harganya lebih murah, bahkan tidak pernah dipandang sebelah mata, mudah katiwasan. (nm)

Pribahasa Banjar

Paribasa banjar, refleksi budaya oleh noorhalis majid

PATIKAMAN

Entah berasal dari kata tikam, atau memang sejak awalnya sudah merupakan satu kata yaitu patikaman. Bila dilihat dari kata tikam, maka berarti menusuk, atau bisa pula berarti jurus mematikan. Sementara itu, patikaman berarti ilmu pamungkas.

Seorang murid yang sedang menuntut ilmu agama kepada seorang ulama, akan berebut menjadi murid kesayangan. Saat menjadi murid kesayangan, akan mendapat pelajaran lebih dari yang lainnya. Ilmu-ilmu pamungkas, tidak disampaikan secara umum. Hanya diberikan secara pribadi dan langsung kepada sang murid. Saat itulah, murid mendapat pengetahuan lebih dan istimewa soal ilmu-ilmu agama, mendapat patikamannya.

Begitu juga dengan murid yang belajar ilmu bela diri. baik silat ataupun kuntau. Zaman dulu, belajar ilmu bela diri kepada guru-guru yang memiliki keahlian bela diri. Sang guru memilih murid yang paling berbakat dan serius dalam menuntut ilmu. Mendapat pelajaran lebih dari murid lainnya, bahkan mendapat perhatian yang berbeda. Menjadi murid kesayangan dan akhirnya mendapatkan ilmu patikamannya.

Belajar ilmu lainnya juga seperti itu. ilmu pengobatan, ilmu keahlian memasak dan berbagai ilmu lain yang sangat luas. Diyakini pada semua ilmu tersebut ada rahasia-rahasia yang tidak semua orang mendapatkannya. Sekalipun belajar, namun belum tentu mendapatkan rahasia dari ilmu tersebut. 

Maka patikaman berarti pamungkas, sesuatu yang dianggap istimewa, disampaikan kepada orang yang diistimewakan dan diberikan pada waktu yang juga dianggap istimewa. Bahkan patikaman sering kali dianggap rahasia. Tidak sembarang orang mendapatkannya. Karena merupakan ilmu andalan dan menjadi intisari dari ilmu yang diajarkan.  

Patikaman tentu bukan hal yang biasa saja, apalagi remeh temeh. Merupakan mahkota dari ilmu pengetahuan, atau sebagai ilmu tertinggi yang dirahasiakan. Tidak mudah mendapatkannya. Perlu upaya sungguh-sungguh untuk meyakinkan bahwa pantas mendapatkan yang istimewa.

Ungkapan ini mengajarkan dua hal, pertama, pada setiap ilmu ada inti sari yang sering kali tidak mudah memperolehnya. Bila intisarinya tidak mampu didapatkan, maka pada dasarnya belum mendapatkan hakekat dari ilmu yang dituntut. Kedua, mengajarkan tentang bagaimana cara mendapatkan ilmu. Perlu upaya lebih tekun, tidak sekedarnya saja. Membangun kepercayaan, keseriusan, meyakinkan bahwa memang pasti diistimewakan. Tentu tidak mudah, perlu kerja kerjas. Bila tidak mampu dilakukan, jangan berharap mendapat patikamannya. (nm)

Khalid bin Waleed RA. Kisah Panglima Perang yang di Non Aktifkan

KISAH PANGLIMA PERANG YANG DI NON AKTIFKAN

Pada zaman pemerintahan Khalifah Syaidina Umar bin Khatab, ada seorang panglima perang yang disegani lawan dan dicintai kawan. Panglima perang yang tak pernah kalah sepanjang karirnya memimpin tentara di medan perang. Baik pada saat beliau masih menjadi panglima Quraish, maupun setelah beliau masuk Islam dan menjadi panglima perang umat muslim. Beliau adalah Jenderal Khalid bin Walid.

Namanya harum dimana-mana. Semua orang memujinya dan mengelu-elukannya. Kemana beliau pergi selalu disambut dengan teriakan, "Hidup Khalid, hidup Jenderal, hidup Panglima Perang, hidup Pedang Allah yang Terhunus." Ya! .. beliau mendapat gelar langsung dari Rasulullah SAW yang menyebutnya sebagai Pedang Allah yang Terhunus. 

Dalam suatu peperangan beliau pernah mengalahkan pasukan tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Padahal pasukan muslim yang dipimpinnya saat itu hanya berjumlah 46.000 orang. Dengan kejeliannya mengatur strategi, pertempuran itu bisa dimenangkannya dengan mudah. Pasukan musuh lari terbirit-birit. 

Itulah Khalid bin Walid, beliau bahkan tak gentar sedikitpun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak.

Ada satu kisah menarik dari Khalid bin Walid. Dia memang sangat sempurna di bidangnya; ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas. 

Pada suatu ketika, di saat beliau sedang berada di garis depan, memimpin peperangan, tiba-tiba datang seorang utusan dari Amirul mukminin, Syaidina Umar bin Khatab, yang mengantarkan sebuah surat. Di dalam surat tersebut tertulis pesan singkat, "Dengan ini saya nyatakan Jenderal Khalid bin Walid di pecat sebagai panglima perang. Segera menghadap!"

Menerima khabar tersebut tentu saja sang jenderal sangat gusar hingga tak bisa tidur. Beliau terus-menerus memikirkan alasan pemecatannya. Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Kira-kira begitulah yang berkecamuk di dalam pikiran beliau kala itu. 

Sebagai prajurit yang baik, taat pada atasan, beliaupun segera bersiap menghadap Khalifah Umar Bin Khatab. Sebelum berangkat beliau menyerahkan komando perang kepada penggantinya. 

Sesampai di depan Umar beliau memberikan salam, "Assalamualaikum ya Amirul mukminin! Langsung saja! Saya menerima surat pemecatan. Apa betul saya di pecat?"

"Walaikumsalam warahmatullah! Betul Khalid!" Jawab Khalifah.

"Kalau masalah dipecat itu hak Anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh tahu, kesalahan saya apa?"

"Kamu tidak punya kesalahan."

"Kalau tidak punya kesalahan kenapa saya dipecat? Apa saya tak mampu menjadi panglima?"

"Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik."

"Lalu kenapa saya dipecat?" tanya Jenderal Khalid yang tak bisa menahan rasa penasarannya. 

Dengan tenang Khalifah Umar bin Khatab menjawab, "Khalid, engkau jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah kau pimpin, dan tak pernah satu kalipun kalah. Setiap hari Masyarakat dan prajurit selalu menyanjungmu. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkan. Tapi, ingat Khalid, kau juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong''

''Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini kau saya pecat. Supaya engkau tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja kau tak bisa berbuat apa-apa!"

Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar.

Sambil menangis beliau berbisik, "Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku!"

Bayangkan …. mengucapkan terima kasih setelah dipecat, padahal beliau tak berbuat kesalahan apapun. Adakah pejabat penting saat ini yang mampu berlaku mulia seperti itu? Yang banyak terjadi justru melakukan perlawanan, mempertahankan jabatan mati-matian, mencari dukungan, mencari teman, mencari pembenaran, atau mencari kesalahan orang lain supaya kesalahannya tertutupi.

Jangankan dipecat dari jabatan yang sangat bergengsi, 'kegagalan' atau keterhambatan dalam perjalanan karir pun seringkali tidak bisa diterima dengan lapang dada. Akhirnya semua disalahkan, sistem disalahkan, orang lain disalahkan, semua digugat.....bahkan hingga yang paling ekstrim.... Tuhan pun digugat..

Kembali ke Khalid bin Walid, hebatnya lagi, setelah dipecat beliau balik lagi ke medan perang. Tapi, tidak lagi sebagai panglima perang. Beliau bertempur sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya kemarin. 

Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal sudah dipecat. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, "Ya Jenderal, mengapa Anda masih mau berperang? Padahal Anda sudah dipecat."

Dengan tenang Khalid bin Walid menjawab, "Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah..

Jumat, 06 Maret 2020

BANTUAN BEASISWA YATIM & DHUAFA TERSENYUM

Alhamdulillah bantuan beasiswa atas nama febiola siswa SMP Al Furqon bjm tuk bulan maret 2020. Jazakallah buat para donatur. semoga menjadi berqah aamiin

Minggu, 01 Maret 2020

CERITA BUYA HAMDA TENTANG GANDI

https://www.facebook.com/568057273539070/posts/1107871366224322/?app=fbl

*CERITA BUYA HAMKA TENTANG GANDHI DAN GHIRAH HINDUNYA*

Diskriminasi dan penindasan terhadap kaum muslimin di India sekarang sebenarnya karena bibit kebencian terhadap Islam yang memang sudah mengakar dan terus menerus disemaikan di India.

Buya Hamka dalam bukunya Ghirah, Cemburu Karena Allah (GIP, 2016) banyak bercerita bahwa Mahatma Gandhi yang sering dielu-elukan sebagai bapak humanisme dan pluralisme dunia dari India adalah sosok yang paling benci kepada Islam dan punya ghirah terhadap agamanya-Hindu yang luar biasa totalitasnya. Dia lah sebenarnya yang amat tak suka Islam berkembang di India meski cara mencegahnya terlihat "halus".

Cerita pertama tentang Vijaya Lakshmi. Saat itu di jaman perang kemerdekaan di bawah pimpinan kongres belum terjadi perpecahan pemimpin Hindu dan Muslim berdirilah para pemimpin di sekeliling Gandhi. Di antara anggota majelis ada perempuan cantik putri Hindu bangsawan yakni adik Yawaharal Nehru, Viyaya Lakshmi Pandit.
Di samping itu ada pula seorang pemuda Islam bernama Dr. Said Husain.
Semboyan selama ini adalah Persatuan Hindu-Muslim membela ibu pertiwi. Vijaya dan Husain saling mencintai. Berbeda agama tidak menjadi dinding bagi asmara mereka. 

Keduanya sama-sama berpendidikan tinggi. Harapannya perkawinan mereka akan jadi simbol persatuan Hindu Islam. Sayangnya Gandhi yang dijuluki “Nabi”nya Persatuan India dan Motial Nehru bangsawan hartawan yang luas faham pula menentang hubungan mereka.
“Tidak, tidak, tidak….! Darah Aria yang tinggi, darah Hindu keturunan Pandit, tidak akan diserahkan kepada seorang Islam. Tidak!"

Ayahnya Motial membujuk, janganlah dilangsungkan perkawinan itu. Dan abangnya Yawaharal Nehru pun, yang terkenal bijak, meminta jangan dilangsungkan, karena masyarakat Hindu tidak akan menerimanya. 
Tetapi tidak berhasil! Viyaya kekeh. 

Akhirnya Gandhi pun turun tangan. Dia pergi kepada Viyaya. Dia sujud bertiarap di bawah kaki puteri jelita itu. Gandhi berkata bahwa dia tidak akan mengangkat kepalanya, sebelum Viyaya berjanji bahwa perkawinan itu tidak akan dilangsungkan. Akhirnya Viyaya patah!

Seorang wanita yang berbudi halus, tidaklah dapat bertahan lagi, menyerah di depan seorang pribadi agung India yang sudi meniarap di bawah kakinya. 
Viyaya terpaksa tunduk! Lalu menerima saat Gandhi memilihkan buat dia seorang pemuda Hindu buat jadi suaminya. 

Untuk mencegah pengaruh kenangannya kepada Said Husain, pemuda ini diutus ke Amerika Serikat buat belajar. Di sanalah pemuda itu hidup sampai 20 tahun.

Beberapa lama kemudian meninggallah suami Viyaya. Sedang Said Husain masih ada di Amerika, dan belum menikah. Apa hendak dikata, masa muda telah berlalu 20 tahun. Uban pun telah mulai menjuntai di kepala mereka. 

Datang juga dia ke Amerika, buat berjumpa kekasihnya. Tetapi apa hendak dikata akhirnya mereka lebih memilih bersahabat. 
Setelah India merdeka, Dr. Said Husain diangkat menjadi Duta Besar India yang pertama buat Mesir. Setelah itu dia pun meninggal. 

Bayangkan demi agamanya, Gandhi sudi sujud di kaki seorang perempuan!
Begitu hebatnya cemburu Gandhi kalau martabat agamanya tersinggung. Meskipun kelihatannya, ia dikenal begitu lemah lembut dan berprikemanusiaan.

Di cerita kedua, pada tahun 1936 terdengar kabar Motial Gandhi sulungnya masuk Islam di Amerika Selatan. Ribut besar! Gandhi rela puasa sampai mati karena sedihnya. Segala upaya ia lakukan tapi tidak dengan kekerasan. Akhirnya anaknya murtad kembali!

Cerita ketiga. Pada tahun 1938 seorang gadis Islam bernama Raihanah Thaib jatuh cinta pada seorang pemuda hartawan Hindu. Kemenakan dari seorang milyuner Hindu, Chankarlal. Mereka akhirnya berhasil menikah. Maka orang yang lebih dulu mengirim berita untuk mengucapkan selamat atas perkawinan itu, di malam pertama tidak dan tak bukan ialah Mahatma Gandhi. Bayangkan! Dia keberatan jika kaumnya masuk Islam, tetapi jika ada seorang Muslim yang berhasil dibawa kepada Hindu dia sangat sukacita.

Lalu pada cerita keempat tentang advokat besar beragama Hindu bernama Kannyalal Yaba yang masuk Islam di bawah pimpinan Penyair Iqbal. Gandhi sangat berduka cita lalu ia datang sendiri ke Lahore dengan penuh lemah lembut membujuk Yaba agar kembali memeluk agama nenek moyang, namun Yaba menanggapinya hanya dengan senyum. Ia tetap muslim dan mengganti nama Khalid Lathif Yaba.

Cerita kelima tentang berita kaum hina dina (sekarang dikenal dengan nama Kasta Dalit)
Dalit kasta terendah di India yang bahkan tak dimasukkan dalam empat tingkatan sistem varna (Brahmana, Ksatria, Waisya, Sudra). 
Kasta ini dipimpin Dr.Ambedkar seorang ekonom dan pembaharu. Mereka beramai-ramai masuk Islam.

Gandhi kelabakan. Ia buru-buru bikin kepanitiaan untuk mencegahnya padahal kasta ini di India tidak dianggap, bahkan tidak diijinkan masuk kuil karena dipandang hina. Apa yang Gandhi lakukan? Puasa sampai mati! Dia gak makan roti dan nasi tapi hanya minum susu kambing dan buah-buahan.

Kata Buya dalam bukunya, Gandhi adalah lambang dari perasaan Hindu yang tak menyukai Islam terutama saat Islam bangkit. Ia tak setuju jika Islam memperoleh kebebasan . Ia tak setuju negara Pakistan berdiri.

Gandhi membenci Islam dengan cara lembut. Ada kalangan Hindu yang lebih-lebih bencinya yakni golongan Hindu Mahasbha. Mereka ingin jika kekuasaan ada di tangan hendak mengikis habis umat Islam dari bumi India. Gandhi tak setuju, dia tetap ingin membenci Islam dengan caranya sendiri. Akhirnya dia mati jadi korban oleh kalangan mereka sendiri- Hindu Mahasbha bukan oleh umat Islam.

Kini setelah Gandhi wafat (1948), teror dan pengejaran terhadap umat Islam di India masih berlangsung hingga sekarang.

Partai Nasionalis Hindu Bharatiya Janata (BJP) yang dipimpin Narendra Modi yang sekarang jadi perdana menteri, menjadi momok yang menakutkan bagi Muslim India setelah kemenangannya dalam pemilu. Buya Hamka benar, penindasan terhadap muslim akan terus berlangsung di India karena bibit kebencian itu sudah mendarah daging.

Bogor, 29022020

Cemburulah untuk agamamu, jika dilepas gantinya hanya satu macam yakni kain kafan tiga lapis! (Buya Hamka)

Disarikan dari buku Ghirah, Cemburu Karena Allah karya Buya Hamka. Gema Insani Press. Jakarta. 2016