Rabu, 05 Februari 2020

Gusti Nurul Gadis yg berani menolak lamaran Bung karno

"GUSTI NURUL, Wanita yang menolak lamaran Presiden Soekarno, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Sutan Syahrir, Pangeran Djati Koesoemo"

Gusti Nurul namanya, wanita pertama yang berani menolak lamaran Bung Karno. Ia sangat tersohor bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena kecerdasan dan keteguhan hatinya. Ia mendapat julukan "De Bloem van Mangkunegaran" (kembang dari Mangkunegaran). Wanita yang bernama lengkap Gusti Raden Ajeng Nurul Kusumawardani ini lahir di Istana Mangkunegaran pada 17 September 1921, buah pernikahan Sri Paduka Mangkunegara VII dengan permaisuri Gusti Ratu Timur. Di masa remaja hingga menjadi gadis, ia sudah aktif di bidang kegiatan sosial dan juga memiliki kemampuan menari dan ilmu sastra.

Pada tahun 1937, Gusti Nurul memenuhi undangan Kerajaan Belanda untuk menari di istana kerajaan dalam rangka pernikahan Puteri Juliana. Ia berangkat ke negeri Belanda tanpa membawa perangkat gamelan, karena itu saat ia menari tidak diiringi tabuhan gamelan.  Alunan gamelan pun dimainkan dari Pura Mangkunegaran dan dipancarkan secara langsung ke Belanda melalui Solosche Radio Vereeniging, radio yang dirintis sang puteri.

Solosche Radio Vereeniging merupakan stasiun radio pertama di Indonesia. Di kemudian hari radio ini dikembangkan dan menjadi cikal bakal Radio Republik Indonesia (RRI). Sang puteri juga dikenal sebagai aktivis sosial di masa mudanya. Dalam sejumlah catatan sejarah, Gusti Nurul juga memberikan sumbangsih pemikiran yang sangat penting di masa pergolakan fisik pasca kemerdekaan, terutama di Solo dan sekitarnya. Karenanya tak heran jika Ratu Wilhelmina dari Belanda memberinya julukan "De Bloem van Mangkunegaran" karena terkesima dengan kecantikan dan kecerdasannya.

Selain itu dia juga terkenal sebagai seorang puteri yang mahir bermain tenis dan juga mengendarai kuda. Apabila sang puteri berlatih mengendarai kuda di depan istana Mangkunegaran, maka ratusan pemuda Solo rela berdesakan agar dapat melihat langsung paras Gusti Nurul.

Meskipun dibesarkan di dalam lingkungan kerajaan, Gusti Nurul lebih memilih hidup dengan pemikiran yang melampaui zamannya. Dia menentang keras praktik poligami. Karena itu saat Bung Karno datang melamarnya, ia dengan tegas menolaknya. Termasuk lamaran dari Sutan Syahrir dan Sultan Hamengku Buwono IX. Ia juga menolak lamaran dari Pangeran Djati Kusumo (KSAD pertama), Putera Susuhunan Paku Buwono X).

Melalui orang dekatnya, Gusti Nurul mengetahui bahwa Bung Karno menaruh hati padanya. Bung Karno pernah mengundang Gusti Nurul dalam sebuah jamuan santap siang di istana Cipanas Bogor, Jawa Barat. Ia menerima undangan itu ditemani sang ibu, Gusti Kanjeng Ratu Timur. Bung Karno pun mengajaknya berjalan berdua mengelilingi ruang dalam istana. Mereka melihat-lihat koleksi lukisan yang terpasang di dinding. 

“Di istana aku sempat melihat lukisan pemandangan bersama Presiden Sukarno,” tuturnya. Di kala itulah Bung Karno meminta Basuki Abdullah melukis wajah Gusti Nurul. “Setelah selesai, lukisan tersebut dipasang di ruang kerja presiden di Istana Cipanas,” ungkap Nurul. Setelah melalui berbagai pendekatan, Gusti Nurul mengatakan bila seandainya Bung Karno melamar dirinya, ia pasti akan menolak.

Alasannya sama seperti saat ia menolak pinangan Sutan Syahrir. “Sebagai tokoh Partai Sosialis Indonesia, ia (Syahrir) tidak mungkin menikah dengan putri bangsawan yang dianggap feodal,” kata Nurul. Hal yang sama juga akan ia utarakan apabila Bung Karno jadi melamarnya. “Sebagai tokoh PNI, tak mungkin ia menikah denganku,” tuturnya. Penolakannya terhadap Bung Karno bukan semata-mata karena alasan ideologi. Namun, karena ia sangat tidak setuju dengan praktik poligami. Saat itu Bung Karno sudah menjadi suami dari Fatmawati. Ia juga bercerita bahwa selain dirinya, lamaran Bung Karno juga pernah ditolak oleh penyanyi senior Ivo Nilakrisna (ibunda aktris Astri Ivo) dan juga aktris senior Aminah Cendrakasih.

Gusti Nurul akhirnya memilih menikah dengan seorang tentara berpangkat kolonel yang berstatus duda punya anak 1, bernama Raden Mas Suyarso Suryosurarso di Surakarta pada tahun 1951. Konon laki-laki inilah yang benar-benar nampu memikat hatinya. Pernikahan berlangsung cukup lama dan dikaruniai beberapa orang putera dan puteri. Hingga usianya lanjut kecantikannya tidak pernah pudar, Gusti Nurul wafat dengan tenang dikelilingi oleh putera puteri dan cucu kesayangannya pada November 2015 dalam usia 94 tahun.

Inilah pesan singkat Gusti Nurul kepada para kaum Hawa:
1. Jangan pernah mau dimadu.
2. Meskipun suamimu tinggal di kolong jembatan isteri harus selalu ikut.
3. Jika kamu memiliki rumah sendiri, saudara perempuanmu tidak boleh ikut.

(Rubi Yono)

cc: foto-foto dari koleksi R.A Gayatri W.Muthari, kerabat Mangkunegaran.

Selasa, 04 Februari 2020

Vitnam Taklukan Amerika

Vietnam Mampu Menaklukan Amerika Terinspirasi Perang Gerilya di Indonesia

Banyak orang tahu Amerika kalah perang oleh Vietnam. Tapi banyak orang tidak tahu, salah satu sebab Amerika kalah oleh Vietnam adalah Indonesia. 

Amerika adalah negara terkuat di dunia selama beberapa abad belakangan ini. Kuat di bidang ekonomi dan kuat di bidang militer.

Dua fakta tersebut menunjukkan betapa kuatnya Amerika. Akan tetapi dengan segala kekuatan ini, Amerika kalah oleh Vietnam. Setidaknya dari 2,7 juta orang Amerika yang bertugas di Vietnam tercatat 58.159 orang tewas, 1.719 hilang, dan 303.635 orang luka-luka. Memang jumlah ini lebih sedikit dari jumlah orang Vietnam yang tewas, tapi hengkangnya Amerika dari wilayah Indo Cina tersebut jelas-jelas merupakan fakta sejarah bahwa Amerika kalah dalam perang Vietnam. 

Tentara Amerika kalah dalam perang Vietnam karena tidak mampu menghadapi serangan gerilyawan Vietcong. Gerilyawan Vietcong sangat mengusai medan pertempuran di hutan-hutan. Mereka sangat menguasai teknik perang bergerilya. Lalu darimana gerilyawan Vietkong belajar perang gerilya yang hasilnya menang perang lawan Amerika? Beberapa pimpinan gerilyawan Vietkong mengatakan bahwa mereka membaca buku “Pokok-Pokok Perang Gerilya” karangan Jendral AH Nasution dan menjadikannya pedoman mereka dalam menetapkan strategi. Nasution adalah salah seorang dari 3 Jenderal Besar bintang 5 di Indonesia.

Vietcong tidak berpatokan pada Mao Tse Tung yang juga ahli perang gerilya karena kondisi alam dan masyarakatnya berbeda. Kondisi alam dan masyarakat yang paling mirip dengan Vietnam adalah Indonesia dan itu ada dalam buku karangan Nasution.

Dr. Salim Said dan Saleh A Djamhari sejarawan Universitas Indonesia mengatakan hal ini dalam beberapa seminar. Jadi tidak berlebihan kalau dikatakan, Amerika kalah perang (salah satunya) karena Faktor Indonesia. 

Gerilya adalah salah satu strategi perang yang dikenal luas, karena banyak digunakan, selama perang kemerdekaan di Indonesia pada periode 1950-an. Bagi tentara perang gerilya sangatlah efektif. Mereka dapat mengelabui,menipu atau bahkan melakukan serangan kilat.

Perang Gerilya adalah salah satu peristiwa besar yang pernah dialami Indonesia. Dicetuskan dan dipimpin langsung oleh Jenderal Soedirman kala itu, Perang Gerilya berhasil membuat pasukan Belanda Kocar kacir. Perang Gerilya adalah suatu taktik perang yang dilakukan secara sembunyi dan berpindah-pindah.

Dalam perang Gerilya, Jenderal Sudirman memimpin pasukan dari atas tandu. Sebab kondisinya yang lemah akibat penyakit paru-paru yang dideritanya. Perang ini juga merupakan jawaban kekecewaan Jenderal Sudirman kepada Soekarno Hatta yang lebih memilih jalur diplomasidi banding berperang untukmenjaga kedaulatan NKRI.

Puncaknya terjadi Tanggal 30 April 1975 yang akan dikenang bangsa Vietnam sebagai akhir perang panjang yang menghancurkan negeri itu. Pada saat itulah, ibu kota Vietnam Selatan, Saigon (kini Ho Chi Minn City) jatuh ke tangan Tentara Raykat Vietnam (PAVN) dan Front Pembebasan Nasional Vietnam Selatan (Viet Cong) kemenangan yang terinspirasi perang gerilya di Indonesia.

Kamis, 30 Januari 2020

Raja Siak Indrapura Sumbang 13 Juta Golden

13 JUTA GULDEN SUMBANGAN SULTAN SIAK UNTUK INDONESIA

Uang sebesar 13 juta gulden tentu saja bukan jumlah yang kecil. Jika ditakar dengan ukuran sekarang, nominalnya kira-kira setara 69 juta euro atau lebih dari 1 triliun rupiah. Segepok uang itulah yang diberikan secara cuma-cuma oleh Sultan Syarif Kasim II kepada Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Sukarno.

Tak hanya itu, Sultan Syarif Kasim II juga tidak segan-segan menyerahkan mahkota dan nyaris seluruh kekayaannya. Ini dilakukan sebagai penegas bahwa Kesultanan Siak Sri Inderapura yang dipimpinnya meleburkan diri ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Siapakah sebenarnya sultan yang murah hati dan berkomitmen penuh terhadap NKRI itu? Mengapa pamornya seolah-olah kalah dengan para raja Nusantara pro-Republik lainnya macam Sri Sultan Hamengkubuwana IX dan Pakualam VIII dari Yogyakarta atau Sultan Hamid II dari Pontianak?

Anti-Belanda Sejak dalam Pikiran

Sedari era pemerintahan kolonial Hindia Belanda, Sultan Syarif Kasim II sudah menempatkan dirinya sebagai penentang kaum penjajah. Lahir di Siak Sri Inderapura, Riau, pada 1 Desember 1893, sang sultan memperlihatkan perlawanannya terhadap Belanda melalui cara-cara yang elegan dan cerdas.

Sultan Syarif Kasim II sadar, melawan Belanda lewat fisik atau menentang dengan frontal sama saja bunuh diri. Apalagi, Kesultanan Siak Sri Inderapura masih terikat perjanjian yang diteken pendahulunya di masa lampau.

Jauh sebelumnya, Sultan Said Ismail (1827-1864), kakek buyut Sultan Syarif Kasim II, terpaksa menandatangani Traktat Siak yang isinya sangat menguntungkan Belanda (Sapardi Djoko Damono & Marco Kusumawijaya, Siak Sri Indrapura, 2005: 71).

Traktat Siak merupakan konsekuensi yang dijalani Sultan Said Ismail karena meminta bantuan Belanda untuk mengusir Inggris dari Riau pada pertengahan abad ke-19. Terbelenggu oleh Traktat Siak tidak lantas membuat Sultan Syarif Kasim II, yang bertakhta sejak 3 Maret 1915, sepenuhnya takluk kepada bangsa kolonial.

Sebaliknya, Sultan Syarif Kasim II dengan cerdik memaksimalkan perannya agar rakyat Siak Sri Inderapura tidak tertinggal jauh dalam menyongsong zaman modern di era pergerakan nasional itu.

Sultan Syarif Kasim II memang sosok yang berpikiran modern. Sejak usia belia, tepatnya tahun 1904, ia sudah dikirim ke Batavia (Jakarta) untuk memperdalam ilmu hukum agama dan ilmu pemerintahan. Syarif Kasim II adalah salah satu murid Profesor Snouck Hurgronje, orientalis yang menjadi penasihat pemerintah kolonial (M. Nijhoff, Anthropologica, Volume 153, 1997: 516).

Karena itu, setelah dinobatkan menjadi sultan pada 1915, ia menggalakkan pembangunan di wilayahnya. Sultan Syarif Kasim II juga berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia rakyat Siak Sri Inderapura melalui pendidikan demi mengejar ketertinggalan dari orang-orang Belanda.

Melawan dengan Cara Elegan
Sultan Syarif Kasim II mendirikan sekolah dasar untuk mengimbangi Hollandsche Inlandsche School (HIS) milik Belanda yang hanya menerima murid dari kalangan tertentu. Sultan ingin agar seluruh anak-anak dari berbagai lapisan masyarakat bisa mengenyam pendidikan yang baik.

Sekolah dasar pertama di Riau itu menjalankan kurikulum yang memadukan unsur agama (Islam) dan nasionalisme, termasuk mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan umum. Maka, berdirilah Madrasah Taufiqiyah al Hasyimiah pada 1917 (Suwardi Mohammad Samin, Sultan Syarif Kasim II: Pahlawan Nasional dari Riau, 2002: 66).

Tak hanya itu, permaisuri Sultan Syarif Kasim II, Sarifah Latifah, juga turut mendirikan sekolah khusus untuk perempuan pertama di Riau (Wilaela, Sultanah Latifah School di Kerajaan Siak, 2014: 130). Sekolah yang bernama Latifah School tersebut diresmikan pada 1926.

Sayangnya, Sarifah Latifah keburu wafat. Perjuangannya dilanjutkan oleh permaisuri kedua, Tengku Maharatu. Selain mengelola Latifah School, ia juga mendirikan asrama putri, taman kanak-kanak, serta menggagas sekolah perempuan lainnya bernama Madrasyahtul Nisak (Adila Suwarno, dkk., Siak Sri Indrapura, 2007: 73).

Sultan Syarif Kasim II sendiri terus menentang Belanda melalui gerakan diam-diam. Salah satunya memberi dukungan kepada “pemberontakan" Si Koyan pada 1931, yang dilancarkan oleh mereka yang tidak sudi dijadikan pekerja paksa (Tenas & Nahar Efendi, Lintasan Sejarah Kerajaan Siak Sri Indrapura, 1972: 53).

Bantuan dana juga diberikan secara klandestin oleh Sultan Syarif Kasim II untuk memperkuat benteng-benteng pertahanan rakyat, juga memberikan fasilitas pelatihan kemiliteran kepada kaum pemuda, hingga menentang kebijakan romusha oleh pemerintahan pendudukan Jepang pada 1942.

Tanpa Pamrih Demi NKRI
Beberapa pekan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, Sultan Syarif Kasim II mengirimkan kawat kepada Presiden Sukarno. Kawat tertanggal 28 November 1945 itu menyatakan bahwa Kesultanan Siak Sri Inderapura berdiri teguh di belakang Republik Indonesia (Husni Thamrin, Naskah Historis, Politik dan Tradisi, 2009: 201).

Mardanas Safwan dalam Sultan Syarif Kasim II: Riwayat Hidup dan Perjuangannya 1893-1968 (2004) menyebutkan, kawat tersebut dikirimkan bersama dengan kesediaan sultan menyumbangkan uang sebesar 13 juta gulden untuk mendukung berdirinya republik.

Sebulan sebelumnya, Oktober 1945, Sultan Syarif Kasim II memprakarsai dibentuknya Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan Barisan Pemuda Republik di Siak Sri Inderapura (Riau). Pembentukan badan-badan perjuangan itu disertai dengan rapat umum yang digelar di lapangan istana dengan mengibarkan bendera Merah Putih. 

Dalam rapat besar itu, Sultan Syarif Kasim II bersama segenap rakyat Siak Sri Inderapura dan tokoh-tokoh Riau mengucapkan ikrar setia untuk mempertahankan kemerdekaan RI sampai titik darah penghabisan (GN-PPNK, Riwayat Hidup Singkat dan Perjuangan Almarhum Sultan Syarif Kasim II, 2006: 3).

Keputusan tersebut ternyata membuat Belanda—yang datang kembali ke Indonesia bersama pasukan Sekutu tak lama setelah kemerdekaan RI—berang dan melayangkan ancaman terhadap sang sultan. 

Ancaman itu membuat Sultan Syarif Kasim II terpaksa diungsikan ke Aceh. Sebelum pergi, sultan menyerahkan istana beserta nyaris seluruh kekayaan Kesultanan Siak Sri Inderapura, termasuk mahkota raja, kepada pemerintah RI (Muhammad Hafiz, Pendidikan di Kerajaan Siak Sri Inderapura: Telaah Historis Pendidikan di Era Sultan Syarif Kasim II, 2012: 96).

Di Serambi Mekah, Sultan Syarif Kasim II bergabung dengan kaum pejuang dan dipercaya sebagai penasihat pemerintah Karesidenan Aceh. Sultan masih menyuarakan dukungannya terhadap RI dari Aceh, termasuk dengan membujuk raja-raja di kawasan Sumatera untuk berpihak kepada republik. 

Setelah masa damai, Sultan Syarif Kasim II sempat tinggal Jakarta kendati tidak menempati posisi khusus di pemerintahan. Itu terjadi lantaran ia harus kembali ke Riau untuk mengurusi harta peninggalan leluhurnya yang ternyata masih ada di Singapura. Di Riau, sultan menetap di bekas kediaman almarhumah istrinya, Sultanah Latifah.

Sultan Syarif Kasim II bolak-balik ke Singapura selama beberapa tahun dan sempat tinggal di negeri bekas jajahan Inggris itu. Namun, konfrontasi Indonesia dengan Malaysia yang terjadi pada awal dasawarsa 1960-an membuat Sultan Syarif Kasim II gagal membawa pulang harta warisannya.

Lantaran tidak ingin terseret dalam konflik, Sultan Syarif Kasim II pulang ke Siak. Ia menghabiskan masa tua di kampung halamannya hingga wafat pada 23 April 1968 dalam usia 76 tahun (Nizami Jamil, Negeri Siak Tanah Kelahiranku, 2008: 153).

Pengorbanan Sultan Syarif Kasim II untuk Republik amat besar. Namun, pemerintah RI baru memberinya gelar Pahlawan Nasional pada 6 November 1998. Nama Sultan Syarif Kasim II diabadikan sebagai nama bandar udara internasional di Pekanbaru, Riau. (tirto.id)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Ivan Aulia Ahsan

Hukum Menafkahi Orang Tua

https://bincangsyariah.com/kalam/hukum-menafkahi-orang-tua-bagi-seseorang-yang-telah-menikah/

Senin, 27 Januari 2020

VIRUS CORONA

Inilah situasi di Wuhan, dukungan peralatan medis dan tenaga medis tidak lagi mencukupi.dgn banyaknya pasien terinfeksi, secara mental dan phisik tenaga medis sdh gak sanggup, sementara pasien yg tdk tertangani di koridor2 RS mangamuk dan dokter yg meninggal kemaren krn masker dan peralatan medisnya dibuka pasien yg mengamuk akhirnya dokter itu terinfeksi juga dan tewas. Itulah situasi di Wuhan saat ini !!!   Presiden Xi Jinping mengatakan China sedang menghadapi wabah serius..!   Akankah tindakan militer akhirnya hrs diputuskan presiden? Kita sdh sama2 paham jika tindakan militer sdh dilakukan dikawasan yg terisolasi maka artinya pemusnahan massal krn penularan yg sdh tdk bisa diatasi..! Sangat diharapkan Pemerintah Indonesia hrs tegas jgn bermain-main dgn penyebaran virus ini, salah satunya menolak semua penerbangan dari dan ke China termasuk kapal-kapal laut..! Ketegasan pemimpin akan menyelamatkan kita semua... 💪🇲🇨

Senin, 30 Desember 2019

MUHAMMMAADIYAH 1.2 T

*REZIM JOKOWI BERHUTANG KE MUHAMMADIYAH 1,2 T*


Oleh : Nasrudin Joha 


Dua Ormas Islam di Indonesia mulai ramai mengungkit utang pemerintah. Nahdlatul Ulama sudah lebih dulu menagih. Melalui Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj, NU menagih janji Menteri Keuangan Sri Mulyani untuk mencairkan kredit rumah murah sebesar Rp 1,5 triliun.

Tak berselang lama, giliran Muhammadiyah yang ikut mengungkit utang pemerintah. Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan bahwa pemerintah punya utang sebesar Rp 1,2 triliun.

Bedanya, utang rezim ke NU adalah utang politik, berkaitan dengan janji politik. Sementara utang rezim Jokowi ke Muhammadiyah adalah utang real, utang karena Muhammadiyah telah melakukan kerja nyata melayani umat, melalui layanan kesehatan rumah sakit berbasis program BPJS.

Perlu diketahui, rasa jengkel dan geram atas tunggakan BPJS itu dialami semua rumah sakit. BPJS tak memiliki solusi kongkrit, selain membantu menjadikan piutang ke BPJS menjadi agunan yang dapat dijadikan jaminan bagi Rumah Sakit untuk meminjam utang ke Bank. 

Jika langkah pinjam ke bank diambil oleh rumah sakit, rumah sakit mengalami dua kerugian. Pertama, rumah sakit terpaksa terbelit riba. Kedua, beban bunga utang akan menambah berat kegiatan anggaran rumah sakit.

Belum lagi, berbagai standar layanan BPJS yang mulai dikurangi, bukan karena pertimbangan medis tetapi lebih karena pertimbangan kosongnya anggaran. Meski berulangkali mengaku defisit, gaji direktur BPJS masih tetap saja selangit (terakhir 500 jt).

Muhammadiyah dan RS pada umumnya memang dibuat tak berdaya, utang Pemerintah ini beda dengan utang swasta atau pribadi. Andaikan utang ini sifatnya pribadi, sudah pasti banyak rumah sakit sewa jasa Debt Colector untuk tongkrongi semua kantor BPJS di seluruh Indonesia.

Jadi, yang punya hak untuk kirim debt colektor itu bukan BPJS untuk menagih iuran BPJS ke rakyat. Sejak awal Rakyat sudah ogah dan menolak diikutkan program BPJS, rezim saja yang memaksa.

Yang punya hak itu ya Muhammadiyah, dan seluruh rumah sakit yang punya piutang di BPJS. Rumah sakit jelas telah bekerja, membiayai layanan kesehatan, membayar obat, membayar dokter, menalangi biaya pasien menginap, dll. Jadi kalau mau menang-menangan, seharusnya rumah sakit yang berhak kirim debt Colector ke kantor BPJS.

Namun masih tersisa satu permasalahan, kenapa Muhammadiyah sampai 'menagih' di forum umum ? Jelas, curhatan Din Samsudin bukan tanpa sebab. Boleh jadi, ini karena pihak Pemerintah sudah sangat kebangetan. Kalau SAS merajut di forum umum tak perlu diperhatikan, dia mah sudah tidak punya malu.

Kembali ke pokok masalah, rezim Jokowi ini punya utang 1,2 T kepada Muhammadiyah. Gayanya jual kartu-kartuan, untuk kesehatan. Padahal, Muhammadiyah yang disuruh tombok. [].

MUSLIM UIGHUR

*Kejamnya "Seorang Saudara" bagi Muslim Uighur*
Oleh: Ibnu Hilmi Al Banjary

Muslim Uighur menangis, menderita baik fisik dan batinnya, mereka dilarang melakukan berbagai aktivitas yang bernuansa Islam, seperti melakukan shalat, puasa, membaca Al Qur'an, bahkan dilarang untuk berjilbab. Tidak sampai di situ saja, muslim Uighur juga dilarang memberi nama anaknya dengan nama Islami, seperti Muhammad, Ahmad, Aminah,  Aisyah dan nama lainnya yang berbau Islam. Wanita-wanita Uighur juga disuntik agar menjadi mandul, dan bahkan mereka dipaksa menikah dengan Laki-laki Etnis Han yang berpahamkan komunis yang tidak beragama, tujuannya adalah agar etnis Uighur habis (genosida) di Xin Jiang (Turkistan Timur).
Semua kedzaliman ini terus dirasakan Muslim Uighur, apabila mereka menolak atau melakukan perlawanan, maka mereka akan ditangkap dan dimasukkan dalam camp camp indoktrinasi yang disiapkan rezim komunis Tiongkok. Bahkan, sudah sangat banyak Muslim Uighur yang meregang nyawa demi mempertahankan keimanan mereka. Sampai sekarang penindasan dan kedzaliman tersebut masih berlangsung bahkan semakin biadab.

Fakta Uighur ini sudah lama terjadi, dan isu ini kembali muncul, tatkala Salah Satu Pemain Bola dari Klub Eropa (Mesut Ozl) yang mentwit dari akun pribadinya, betapa prihatinnya dirinya terhadap Penderitaan Muslim Uighur, dan kebingungan dirinya akan umat Islam di seluruh dunia, yang diam melihat fakta Uighur ini. Menurutnya, seharusnya umat Muslim lainnya menolong Muslim Uighur, bukan diam dan tidak peduli, sungguh memprihatinkan.

Seorang Muslim yang mengaku beriman, dia harus mencintai saudaranya (seiman) sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri, hal ini berdasarkan hadis Nabi SAW berikut ini:

*عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسْ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، خَادِمُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ [رواه البخاري ومسلم]*

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah SAW dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: *Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.* [Riwayat Bukhori dan Muslim]

Arti dari mencintai saudaranya (seiman), seperti mencintai dirinya sendiri adalah menginginkan agar saudaranya mendapatkan kenikmatan seperti yang dia dapatkan, dan merasa sedih serta teriris hatinya, tatkala saudaranya tertindas dan tersiksa (terdzalimi), sebagaimana didzaliminya Muslim Uighur di Turkistan (Xin Jiang), di Palestina, di Suriah, di India, dan di berbagai tempat lainnya.

Selain itu, bukti cinta kepada saudara seiman juga bukan sekedar adanya perasaan sedih dan teriris saat saudaranya tertindas dan tersiksa, namun juga harus dibuktikan dengan usaha sungguh-sungguh, agar saudaranya seiman tidak lagi mengalami penindasan dan kedzaliman secara terus menerus.
Coba renungkanlah analogi berikut ini,
Ketika seorang pelaku penyiksaan dan pemerkosaan ada di hadapan kita,  bagaimana penilaian kita pada orang tersebut?, tentu kita akan mengatakan, dia adalah orang yang sangat dzalim. Namun ternyata, ada yang lebih dzalim daripada itu, yaitu saudara sendiri yang menyaksikan serta berdiam diri, tatkala saudaranya disiksa dan diperkosa.
Bahkan, setelah tidak berdaya dia obati saudarinya tersebut, dan setelah sembuh, dia persilakan kembali saudarinya tersebut disiksa dan diperkosa. ADAKAH SAUDARA SEJAHAT INI?
Ternyata, banyak orang-orang yang seperti itu, bahkan bisa jadi kita sendiri adalah pelakunya. Contohnya, *diamnya penguasa negeri-negeri muslim, terhadap penindasan terhadap saudara seiman yang ada di Palestina, Kasmir, Suriah, Turkistan (Muslim Uighur) dan berbagai tempat lainnya.* Mereka adalah saudara yang lebih jahat dari pelaku penindasan yang dimaksud.
Termasuk juga, lembaga-lembaga yang menggalang dana untuk membantu saudaranya di Uighur. Secara kasat mata, kita lihat bantuan tersebut sangat besar manfaatnya bagi saudara kita yang menderita, namun hakikatnya semua itu tidak menyelesaikan masalah. Karena, bantuan tersebut, seumpama saudara yang mengobati saudarinya, namun sehabis itu, dia persilakan kembali saudarinya tersebut untuk disiksa dan diperkosa kembali. (Sungguh Jahat sekali saudara seperti ini)

Namun, analogi ini, bukan berarti kita tidak perlu membantu mereka, kita tetap membantu mereka semampu kita (baik dengan doa, uang atau barang-barang yang diperlukan mereka), sehingga saudara kita di Uighur, dan tempat lainnya, bisa bertahan hidup dalam menghadapi penindasan dan kedzaliman.
Akan tetapi, yang diperhatikan adalah fokus dakwah yang dilakukan, apakah sekedar memberi bantuan materi, atau diteruskan dengan berdakwah menawarkan solusi yang mendasar atas penindasan yang terjadi selama ini?

Karena ketahuilah..bahwa akar permasalahan dari penindasan dan kedzaliman yang dialami oleh umat Islam di Uighur dan daerah-daerah lainnya, adalah dikarenakan tidak adanya persatuan pada umat Islam di atas dunia di masa sekarang ini. Faktanya, umat Islam saat ini terpecah belah menjadi kurang lebih 54 negara yang dibatasi oleh sekat-sekat Nasionalisme yang notabenenya adalah tsaqofah Barat yang beracun.

Sebenarnya seruan persatuan umat ini terus menerus digaungkan, namun seruan hanya sebatas seruan. Tidak ada solusi praktis untuk mempersatukan umat Islam yang ada, malah semakin kabur dan tidak jelas persatuan yang dimaksudkan.
Sebenarnya, solusi praktis yang dimaksudkan sudah ada sejak lama, namun Umat Islam masih belum memahaminya, solusi praktis tersebut adalah ditegakkannya institusi Daulah Khilafah Islamiyyah 'ala Minhajin Nubuwah, yang pada catatan sejarah berhasil mempersatukan umat Islam yang tersebar di 2/3 dunia pada saat itu. Solusi inilah yang harus kita sampaikan kepada umat Islam, sehingga mereka bisa benar-benar menolong saudara seiman mereka yang tertindas di Uighur dan negara-negara lainnya.
Ketika Daulah Khilafah Islamiyyah tegak, pada saat itulah, kekuatan kaum Muslimin akan dapat dipersatukan, sehingga orang-orang kafir tidak akan berani lagi untuk menindas dan mendzalimi saudara kita di Uighur, di Palestina, dan tempat lainnya. *(Ingatlah kisah Khalifah Mu'tasim Billah, yang mengerahkan pasukan yang sangat besar, hanya demi menjawab seruan seorang Wanita yang dikurung di Amuria)*
Sehingga, dakwah yang berisi seruan untuk penegakkan Khilafah 'ala Minhajin Nubuwah, adalah ikhtiar yang sangat tepat untuk membantu saudara kita di Uighur, Suriah, Palestina, dan tempat lainnya. Karena dakwah seperti inilah yang akan menyelesaikan permasalahan tersebut, dengan khilafah lah umat Islam bisa bersatu, dengan khilafah pula, umat Islam bisa memiliki Imam/perisai yang bisa melindungi mereka pada saat ada yang mau mendzaliminya. Semoga kita semua Istiqomah dan bisa menyaksikan tegaknya Daulah Khilafah Islamiyyah 'ala Minhajin Nubuwah semasa kita masih hidup.. aamiin..