Senin, 24 Februari 2020
TULISAN BUYA HAMKA TENTANG PKI SAAT BERKUASA
https://www.annasindonesia.com/read/1352-tulisan-buya-hamka-ttg-zaman-ketika-pki-masih-berkuasa
Rabu, 05 Februari 2020
Gusti Nurul Gadis yg berani menolak lamaran Bung karno
"GUSTI NURUL, Wanita yang menolak lamaran Presiden Soekarno, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Sutan Syahrir, Pangeran Djati Koesoemo"
Gusti Nurul namanya, wanita pertama yang berani menolak lamaran Bung Karno. Ia sangat tersohor bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena kecerdasan dan keteguhan hatinya. Ia mendapat julukan "De Bloem van Mangkunegaran" (kembang dari Mangkunegaran). Wanita yang bernama lengkap Gusti Raden Ajeng Nurul Kusumawardani ini lahir di Istana Mangkunegaran pada 17 September 1921, buah pernikahan Sri Paduka Mangkunegara VII dengan permaisuri Gusti Ratu Timur. Di masa remaja hingga menjadi gadis, ia sudah aktif di bidang kegiatan sosial dan juga memiliki kemampuan menari dan ilmu sastra.
Pada tahun 1937, Gusti Nurul memenuhi undangan Kerajaan Belanda untuk menari di istana kerajaan dalam rangka pernikahan Puteri Juliana. Ia berangkat ke negeri Belanda tanpa membawa perangkat gamelan, karena itu saat ia menari tidak diiringi tabuhan gamelan. Alunan gamelan pun dimainkan dari Pura Mangkunegaran dan dipancarkan secara langsung ke Belanda melalui Solosche Radio Vereeniging, radio yang dirintis sang puteri.
Solosche Radio Vereeniging merupakan stasiun radio pertama di Indonesia. Di kemudian hari radio ini dikembangkan dan menjadi cikal bakal Radio Republik Indonesia (RRI). Sang puteri juga dikenal sebagai aktivis sosial di masa mudanya. Dalam sejumlah catatan sejarah, Gusti Nurul juga memberikan sumbangsih pemikiran yang sangat penting di masa pergolakan fisik pasca kemerdekaan, terutama di Solo dan sekitarnya. Karenanya tak heran jika Ratu Wilhelmina dari Belanda memberinya julukan "De Bloem van Mangkunegaran" karena terkesima dengan kecantikan dan kecerdasannya.
Selain itu dia juga terkenal sebagai seorang puteri yang mahir bermain tenis dan juga mengendarai kuda. Apabila sang puteri berlatih mengendarai kuda di depan istana Mangkunegaran, maka ratusan pemuda Solo rela berdesakan agar dapat melihat langsung paras Gusti Nurul.
Meskipun dibesarkan di dalam lingkungan kerajaan, Gusti Nurul lebih memilih hidup dengan pemikiran yang melampaui zamannya. Dia menentang keras praktik poligami. Karena itu saat Bung Karno datang melamarnya, ia dengan tegas menolaknya. Termasuk lamaran dari Sutan Syahrir dan Sultan Hamengku Buwono IX. Ia juga menolak lamaran dari Pangeran Djati Kusumo (KSAD pertama), Putera Susuhunan Paku Buwono X).
Melalui orang dekatnya, Gusti Nurul mengetahui bahwa Bung Karno menaruh hati padanya. Bung Karno pernah mengundang Gusti Nurul dalam sebuah jamuan santap siang di istana Cipanas Bogor, Jawa Barat. Ia menerima undangan itu ditemani sang ibu, Gusti Kanjeng Ratu Timur. Bung Karno pun mengajaknya berjalan berdua mengelilingi ruang dalam istana. Mereka melihat-lihat koleksi lukisan yang terpasang di dinding.
“Di istana aku sempat melihat lukisan pemandangan bersama Presiden Sukarno,” tuturnya. Di kala itulah Bung Karno meminta Basuki Abdullah melukis wajah Gusti Nurul. “Setelah selesai, lukisan tersebut dipasang di ruang kerja presiden di Istana Cipanas,” ungkap Nurul. Setelah melalui berbagai pendekatan, Gusti Nurul mengatakan bila seandainya Bung Karno melamar dirinya, ia pasti akan menolak.
Alasannya sama seperti saat ia menolak pinangan Sutan Syahrir. “Sebagai tokoh Partai Sosialis Indonesia, ia (Syahrir) tidak mungkin menikah dengan putri bangsawan yang dianggap feodal,” kata Nurul. Hal yang sama juga akan ia utarakan apabila Bung Karno jadi melamarnya. “Sebagai tokoh PNI, tak mungkin ia menikah denganku,” tuturnya. Penolakannya terhadap Bung Karno bukan semata-mata karena alasan ideologi. Namun, karena ia sangat tidak setuju dengan praktik poligami. Saat itu Bung Karno sudah menjadi suami dari Fatmawati. Ia juga bercerita bahwa selain dirinya, lamaran Bung Karno juga pernah ditolak oleh penyanyi senior Ivo Nilakrisna (ibunda aktris Astri Ivo) dan juga aktris senior Aminah Cendrakasih.
Gusti Nurul akhirnya memilih menikah dengan seorang tentara berpangkat kolonel yang berstatus duda punya anak 1, bernama Raden Mas Suyarso Suryosurarso di Surakarta pada tahun 1951. Konon laki-laki inilah yang benar-benar nampu memikat hatinya. Pernikahan berlangsung cukup lama dan dikaruniai beberapa orang putera dan puteri. Hingga usianya lanjut kecantikannya tidak pernah pudar, Gusti Nurul wafat dengan tenang dikelilingi oleh putera puteri dan cucu kesayangannya pada November 2015 dalam usia 94 tahun.
Inilah pesan singkat Gusti Nurul kepada para kaum Hawa:
1. Jangan pernah mau dimadu.
2. Meskipun suamimu tinggal di kolong jembatan isteri harus selalu ikut.
3. Jika kamu memiliki rumah sendiri, saudara perempuanmu tidak boleh ikut.
(Rubi Yono)
Selasa, 04 Februari 2020
Vitnam Taklukan Amerika
Vietnam Mampu Menaklukan Amerika Terinspirasi Perang Gerilya di Indonesia
Banyak orang tahu Amerika kalah perang oleh Vietnam. Tapi banyak orang tidak tahu, salah satu sebab Amerika kalah oleh Vietnam adalah Indonesia.
Amerika adalah negara terkuat di dunia selama beberapa abad belakangan ini. Kuat di bidang ekonomi dan kuat di bidang militer.
Dua fakta tersebut menunjukkan betapa kuatnya Amerika. Akan tetapi dengan segala kekuatan ini, Amerika kalah oleh Vietnam. Setidaknya dari 2,7 juta orang Amerika yang bertugas di Vietnam tercatat 58.159 orang tewas, 1.719 hilang, dan 303.635 orang luka-luka. Memang jumlah ini lebih sedikit dari jumlah orang Vietnam yang tewas, tapi hengkangnya Amerika dari wilayah Indo Cina tersebut jelas-jelas merupakan fakta sejarah bahwa Amerika kalah dalam perang Vietnam.
Tentara Amerika kalah dalam perang Vietnam karena tidak mampu menghadapi serangan gerilyawan Vietcong. Gerilyawan Vietcong sangat mengusai medan pertempuran di hutan-hutan. Mereka sangat menguasai teknik perang bergerilya. Lalu darimana gerilyawan Vietkong belajar perang gerilya yang hasilnya menang perang lawan Amerika? Beberapa pimpinan gerilyawan Vietkong mengatakan bahwa mereka membaca buku “Pokok-Pokok Perang Gerilya” karangan Jendral AH Nasution dan menjadikannya pedoman mereka dalam menetapkan strategi. Nasution adalah salah seorang dari 3 Jenderal Besar bintang 5 di Indonesia.
Vietcong tidak berpatokan pada Mao Tse Tung yang juga ahli perang gerilya karena kondisi alam dan masyarakatnya berbeda. Kondisi alam dan masyarakat yang paling mirip dengan Vietnam adalah Indonesia dan itu ada dalam buku karangan Nasution.
Dr. Salim Said dan Saleh A Djamhari sejarawan Universitas Indonesia mengatakan hal ini dalam beberapa seminar. Jadi tidak berlebihan kalau dikatakan, Amerika kalah perang (salah satunya) karena Faktor Indonesia.
Gerilya adalah salah satu strategi perang yang dikenal luas, karena banyak digunakan, selama perang kemerdekaan di Indonesia pada periode 1950-an. Bagi tentara perang gerilya sangatlah efektif. Mereka dapat mengelabui,menipu atau bahkan melakukan serangan kilat.
Perang Gerilya adalah salah satu peristiwa besar yang pernah dialami Indonesia. Dicetuskan dan dipimpin langsung oleh Jenderal Soedirman kala itu, Perang Gerilya berhasil membuat pasukan Belanda Kocar kacir. Perang Gerilya adalah suatu taktik perang yang dilakukan secara sembunyi dan berpindah-pindah.
Dalam perang Gerilya, Jenderal Sudirman memimpin pasukan dari atas tandu. Sebab kondisinya yang lemah akibat penyakit paru-paru yang dideritanya. Perang ini juga merupakan jawaban kekecewaan Jenderal Sudirman kepada Soekarno Hatta yang lebih memilih jalur diplomasidi banding berperang untukmenjaga kedaulatan NKRI.
Puncaknya terjadi Tanggal 30 April 1975 yang akan dikenang bangsa Vietnam sebagai akhir perang panjang yang menghancurkan negeri itu. Pada saat itulah, ibu kota Vietnam Selatan, Saigon (kini Ho Chi Minn City) jatuh ke tangan Tentara Raykat Vietnam (PAVN) dan Front Pembebasan Nasional Vietnam Selatan (Viet Cong) kemenangan yang terinspirasi perang gerilya di Indonesia.
Kamis, 30 Januari 2020
Raja Siak Indrapura Sumbang 13 Juta Golden
13 JUTA GULDEN SUMBANGAN SULTAN SIAK UNTUK INDONESIA
Uang sebesar 13 juta gulden tentu saja bukan jumlah yang kecil. Jika ditakar dengan ukuran sekarang, nominalnya kira-kira setara 69 juta euro atau lebih dari 1 triliun rupiah. Segepok uang itulah yang diberikan secara cuma-cuma oleh Sultan Syarif Kasim II kepada Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Sukarno.
Tak hanya itu, Sultan Syarif Kasim II juga tidak segan-segan menyerahkan mahkota dan nyaris seluruh kekayaannya. Ini dilakukan sebagai penegas bahwa Kesultanan Siak Sri Inderapura yang dipimpinnya meleburkan diri ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Siapakah sebenarnya sultan yang murah hati dan berkomitmen penuh terhadap NKRI itu? Mengapa pamornya seolah-olah kalah dengan para raja Nusantara pro-Republik lainnya macam Sri Sultan Hamengkubuwana IX dan Pakualam VIII dari Yogyakarta atau Sultan Hamid II dari Pontianak?
Anti-Belanda Sejak dalam Pikiran
Sedari era pemerintahan kolonial Hindia Belanda, Sultan Syarif Kasim II sudah menempatkan dirinya sebagai penentang kaum penjajah. Lahir di Siak Sri Inderapura, Riau, pada 1 Desember 1893, sang sultan memperlihatkan perlawanannya terhadap Belanda melalui cara-cara yang elegan dan cerdas.
Sultan Syarif Kasim II sadar, melawan Belanda lewat fisik atau menentang dengan frontal sama saja bunuh diri. Apalagi, Kesultanan Siak Sri Inderapura masih terikat perjanjian yang diteken pendahulunya di masa lampau.
Jauh sebelumnya, Sultan Said Ismail (1827-1864), kakek buyut Sultan Syarif Kasim II, terpaksa menandatangani Traktat Siak yang isinya sangat menguntungkan Belanda (Sapardi Djoko Damono & Marco Kusumawijaya, Siak Sri Indrapura, 2005: 71).
Traktat Siak merupakan konsekuensi yang dijalani Sultan Said Ismail karena meminta bantuan Belanda untuk mengusir Inggris dari Riau pada pertengahan abad ke-19. Terbelenggu oleh Traktat Siak tidak lantas membuat Sultan Syarif Kasim II, yang bertakhta sejak 3 Maret 1915, sepenuhnya takluk kepada bangsa kolonial.
Sebaliknya, Sultan Syarif Kasim II dengan cerdik memaksimalkan perannya agar rakyat Siak Sri Inderapura tidak tertinggal jauh dalam menyongsong zaman modern di era pergerakan nasional itu.
Sultan Syarif Kasim II memang sosok yang berpikiran modern. Sejak usia belia, tepatnya tahun 1904, ia sudah dikirim ke Batavia (Jakarta) untuk memperdalam ilmu hukum agama dan ilmu pemerintahan. Syarif Kasim II adalah salah satu murid Profesor Snouck Hurgronje, orientalis yang menjadi penasihat pemerintah kolonial (M. Nijhoff, Anthropologica, Volume 153, 1997: 516).
Karena itu, setelah dinobatkan menjadi sultan pada 1915, ia menggalakkan pembangunan di wilayahnya. Sultan Syarif Kasim II juga berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia rakyat Siak Sri Inderapura melalui pendidikan demi mengejar ketertinggalan dari orang-orang Belanda.
Melawan dengan Cara Elegan
Sultan Syarif Kasim II mendirikan sekolah dasar untuk mengimbangi Hollandsche Inlandsche School (HIS) milik Belanda yang hanya menerima murid dari kalangan tertentu. Sultan ingin agar seluruh anak-anak dari berbagai lapisan masyarakat bisa mengenyam pendidikan yang baik.
Sekolah dasar pertama di Riau itu menjalankan kurikulum yang memadukan unsur agama (Islam) dan nasionalisme, termasuk mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan umum. Maka, berdirilah Madrasah Taufiqiyah al Hasyimiah pada 1917 (Suwardi Mohammad Samin, Sultan Syarif Kasim II: Pahlawan Nasional dari Riau, 2002: 66).
Tak hanya itu, permaisuri Sultan Syarif Kasim II, Sarifah Latifah, juga turut mendirikan sekolah khusus untuk perempuan pertama di Riau (Wilaela, Sultanah Latifah School di Kerajaan Siak, 2014: 130). Sekolah yang bernama Latifah School tersebut diresmikan pada 1926.
Sayangnya, Sarifah Latifah keburu wafat. Perjuangannya dilanjutkan oleh permaisuri kedua, Tengku Maharatu. Selain mengelola Latifah School, ia juga mendirikan asrama putri, taman kanak-kanak, serta menggagas sekolah perempuan lainnya bernama Madrasyahtul Nisak (Adila Suwarno, dkk., Siak Sri Indrapura, 2007: 73).
Sultan Syarif Kasim II sendiri terus menentang Belanda melalui gerakan diam-diam. Salah satunya memberi dukungan kepada “pemberontakan" Si Koyan pada 1931, yang dilancarkan oleh mereka yang tidak sudi dijadikan pekerja paksa (Tenas & Nahar Efendi, Lintasan Sejarah Kerajaan Siak Sri Indrapura, 1972: 53).
Bantuan dana juga diberikan secara klandestin oleh Sultan Syarif Kasim II untuk memperkuat benteng-benteng pertahanan rakyat, juga memberikan fasilitas pelatihan kemiliteran kepada kaum pemuda, hingga menentang kebijakan romusha oleh pemerintahan pendudukan Jepang pada 1942.
Tanpa Pamrih Demi NKRI
Beberapa pekan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, Sultan Syarif Kasim II mengirimkan kawat kepada Presiden Sukarno. Kawat tertanggal 28 November 1945 itu menyatakan bahwa Kesultanan Siak Sri Inderapura berdiri teguh di belakang Republik Indonesia (Husni Thamrin, Naskah Historis, Politik dan Tradisi, 2009: 201).
Mardanas Safwan dalam Sultan Syarif Kasim II: Riwayat Hidup dan Perjuangannya 1893-1968 (2004) menyebutkan, kawat tersebut dikirimkan bersama dengan kesediaan sultan menyumbangkan uang sebesar 13 juta gulden untuk mendukung berdirinya republik.
Sebulan sebelumnya, Oktober 1945, Sultan Syarif Kasim II memprakarsai dibentuknya Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan Barisan Pemuda Republik di Siak Sri Inderapura (Riau). Pembentukan badan-badan perjuangan itu disertai dengan rapat umum yang digelar di lapangan istana dengan mengibarkan bendera Merah Putih.
Dalam rapat besar itu, Sultan Syarif Kasim II bersama segenap rakyat Siak Sri Inderapura dan tokoh-tokoh Riau mengucapkan ikrar setia untuk mempertahankan kemerdekaan RI sampai titik darah penghabisan (GN-PPNK, Riwayat Hidup Singkat dan Perjuangan Almarhum Sultan Syarif Kasim II, 2006: 3).
Keputusan tersebut ternyata membuat Belanda—yang datang kembali ke Indonesia bersama pasukan Sekutu tak lama setelah kemerdekaan RI—berang dan melayangkan ancaman terhadap sang sultan.
Ancaman itu membuat Sultan Syarif Kasim II terpaksa diungsikan ke Aceh. Sebelum pergi, sultan menyerahkan istana beserta nyaris seluruh kekayaan Kesultanan Siak Sri Inderapura, termasuk mahkota raja, kepada pemerintah RI (Muhammad Hafiz, Pendidikan di Kerajaan Siak Sri Inderapura: Telaah Historis Pendidikan di Era Sultan Syarif Kasim II, 2012: 96).
Di Serambi Mekah, Sultan Syarif Kasim II bergabung dengan kaum pejuang dan dipercaya sebagai penasihat pemerintah Karesidenan Aceh. Sultan masih menyuarakan dukungannya terhadap RI dari Aceh, termasuk dengan membujuk raja-raja di kawasan Sumatera untuk berpihak kepada republik.
Setelah masa damai, Sultan Syarif Kasim II sempat tinggal Jakarta kendati tidak menempati posisi khusus di pemerintahan. Itu terjadi lantaran ia harus kembali ke Riau untuk mengurusi harta peninggalan leluhurnya yang ternyata masih ada di Singapura. Di Riau, sultan menetap di bekas kediaman almarhumah istrinya, Sultanah Latifah.
Sultan Syarif Kasim II bolak-balik ke Singapura selama beberapa tahun dan sempat tinggal di negeri bekas jajahan Inggris itu. Namun, konfrontasi Indonesia dengan Malaysia yang terjadi pada awal dasawarsa 1960-an membuat Sultan Syarif Kasim II gagal membawa pulang harta warisannya.
Lantaran tidak ingin terseret dalam konflik, Sultan Syarif Kasim II pulang ke Siak. Ia menghabiskan masa tua di kampung halamannya hingga wafat pada 23 April 1968 dalam usia 76 tahun (Nizami Jamil, Negeri Siak Tanah Kelahiranku, 2008: 153).
Pengorbanan Sultan Syarif Kasim II untuk Republik amat besar. Namun, pemerintah RI baru memberinya gelar Pahlawan Nasional pada 6 November 1998. Nama Sultan Syarif Kasim II diabadikan sebagai nama bandar udara internasional di Pekanbaru, Riau. (tirto.id)
Penulis: Iswara N Raditya
Senin, 27 Januari 2020
VIRUS CORONA
Inilah situasi di Wuhan, dukungan peralatan medis dan tenaga medis tidak lagi mencukupi.dgn banyaknya pasien terinfeksi, secara mental dan phisik tenaga medis sdh gak sanggup, sementara pasien yg tdk tertangani di koridor2 RS mangamuk dan dokter yg meninggal kemaren krn masker dan peralatan medisnya dibuka pasien yg mengamuk akhirnya dokter itu terinfeksi juga dan tewas. Itulah situasi di Wuhan saat ini !!! Presiden Xi Jinping mengatakan China sedang menghadapi wabah serius..! Akankah tindakan militer akhirnya hrs diputuskan presiden? Kita sdh sama2 paham jika tindakan militer sdh dilakukan dikawasan yg terisolasi maka artinya pemusnahan massal krn penularan yg sdh tdk bisa diatasi..! Sangat diharapkan Pemerintah Indonesia hrs tegas jgn bermain-main dgn penyebaran virus ini, salah satunya menolak semua penerbangan dari dan ke China termasuk kapal-kapal laut..! Ketegasan pemimpin akan menyelamatkan kita semua... 💪🇲🇨
Langganan:
Postingan (Atom)