Jumat, 26 Maret 2021

Musang berbuku Hayam

Paribasa dan ungkapan banjar, refleksi budaya oleh noorhalis majid

MUSANG BABULU HAYAM

Orang jahat menyamar sebagai orang baik. Berpura-pura berbuat dan bersikap baik, padahal tujuannya jahat, karena memang tabiatnya jahat. Nampak sikapnya lemah lembut – tutur kata halus, padahal di dalamnya menyembunyikan maksud jahat, itulah maksud musang bubulu hayam.  

Musang berbulu ayam, begitu artinya. Ungkapan ini sangat universal, di tempat lain disebut musang berbulu domba. Ada bulu domba atau bulu ayam yang menjadi topeng tabiat sebenarnya. Disamarkan, berpura seperti domba atau ayam, tidak membahayakan, ternyata aslinya musang sang pemangsa.

Di kampung, banyak ayam jatuh korban dimakan musang. Tidak bisa lengkah, saat malam, ketika ayam lelap tertidur, musang masuk ke kandang, menyelinap memangsa ayam. Apalagi ayam saat malam matanya rabun, tidak bisa berbuat banyak pada kandang sempit. Mudahlah bagi musang memangsanya. Fenomena ini menjadi ungkapan, musang bubulu hayam.

Keramahan dan segala bentuk sikap baik, bagian dari kepura-puraan. Tidak gampang mampu bermain peran seperti itu, harus sempurna layaknya domba atau ayam. Kalau tidak lihai, akan mudah diketahui. Hanya penjahat ulung mampu melakukannya, kalau amatiran tidak mungkin bisa merubah karakter sedemikian rupa, hingga memperdaya.

Sifat seperti ini ada dimana-mana, tidak berbatas geografis ataupun ruang pergaulan. Entah pusarannya ada mana?, boleh jadi di ruang ekonomi, sosial budaya atau politik. Ketika potensi ada di semua tempat, berhati-hatilah, jangan sampai menjadi korban. 

Ungkapan ini sebuah sindiran apabila ada yang berpura-pura baik namun tercium gelagat jahatnya. Dari pada menjadi korban, lebih baik disindir terlebih dahulu. Atau bisa pula sebagai pembelajaran nasehat, untuk tidak mudah percaya pada kebaikan yang tiba-tiba. Sehari-harinya tidak pernah baik, seketika mendadak baik. Maka berhati-hati dengan situasi seperti itu, jangan sampai masuk perangkap musang. Bisa pula sebuah umpatan - makian, karena menyadari menjadi korban atas kepura-puraan, seolah baik, ternyata diujungnya memangsa tanpa belas kasihan.

Jangankan yang jelas kejahatan, pada yang nampak dan terkesan baik saja kita harus berhati-hati - waspada. Jangan mudah terpedaya kebaikan semu, karena faktanya ada musang babulu hayam. (nm)

Rabu, 24 Maret 2021

PEMIKIRAN POLITIK SYEKH AL BANJARI

https://jurnal.staialhidayahbogor.ac.id/index.php/am/article/view/594

Senin, 15 Maret 2021

20 tahun Kiprah Dhuafa Tertenyum

Kiprah Dhuafa Tersenyum Dalam Milad ke 20 Tahun" is waiting for your approval
https://dhuafa-tersenyum.org/kiprah-dhuafa-tersenyum-dalam-milad-ke-20-tahun/

Rabu, 03 Maret 2021

KLINIK PRATAMA GRATIS DHUAFA TERSENYUM KEJAKSAAN

Komp. Kejaksaan Jalur 2, Jl. Brigjend H. Hasan Basri, Pangeran, Kec. Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70123

Minggu, 28 Februari 2021

Al Banni

☝️ Kitab yang membahas tentang kontradiksi Albani dalam menetapkan derajat suatu hadits, dimana banyak dijumpai dalam penjelasan di kitabnya yang pertama dia bilang dhaif, namun di kitab yang kedua dia bilang hasan dan di kitabbyangbketiga dia bilang shahih dan itu dapat ditemukan di lebih dari 250 hadits Nabi:

Albani juga berani medhaifkan 2 hadits yang ada dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan mendhaifkan 35 hadits yang ada dalam kitab Sahih Muslim.

Al-Bani juga berani mengangap sesat Imam ibnu Hajar Al-Asqolani, Imam Ibnu Hajar Al-Haitamy, Imam An-Nawawi, Imam As-Suyuthi dst.

Jumat, 19 Februari 2021

Dhuafa Tersenyum Bantu korban banjir ust ustd Pondok Pesantren Hidayatullah martaoura

https://www.suarakalimantan.com/2021/02/pasca-banjir-klinik-dhuafa-terseyum-peduli-salurkan-bantuannya-ke-pondok-pesantren-hidayatullah-martapura/#.YC-4NM77MzQ

Jumat, 05 Februari 2021

Prndidikan Yang baik kerja nyata bukan kata kata

Charlie Chaplin, komedian paling terkenal, pernah bercerita:

Waktu masih kecil, aku diajak oleh ayahku untuk nonton pertunjukan sirkus. Sebelum masuk, kami antri di depan loket untuk membeli karcis. Antrian cukup panjang, dan di depan kami ada satu keluarga ikut antri. Bapak, ibu dan 4 anak yang tampak bahagia. Dari pakaian yang mereka kenakan, dapat dipastikan bahwa mereka bukan orang kaya. Pakaiannya sangat sederhana, meski tidak dekil. 

Tiba giliran mereka harus membayar karcis. Sang bapak merogoh kantong celana, dan tampak kebingungan: uangnya tidak cukup untuk membayar 6 lembar karcis. Dia sedih dan murung, kemudian segera minggir dari antrian. 

Ayahku melihatnya, dan langsung merogoh uang 20 dolar dari sakunya. Ayahku langsung menjatuhkan uang itu di samping bapak empat anak tersebut. Ayahku menepuk pundaknya, dan berkata, "Pak, uang anda jatuh."

Bapak itu menoleh, memandang ayahku, dan dia sadar bahwa ayahku mau membantunya supaya bisa beli 6 karcis. Matanya sembab, bibirnya tersenyum, dan dia ambil uang 20 dolar itu sambil berterimakasih.

Ayahku pun tersenyum, lantas mundur menghampiri aku. Aku lihat bapak itu segera beli karcis untuk keluarganya. Mereka tampak sangat bahagia. 

Ayahku lantas mengajak aku pulang. Kami tidak jadi nonton pertunjukan sirkus. Ternyata, uang ayahku hanya 20 dolar, dan sudah diberikan kepada keluarga tadi.

Dalam hidupku, itulah pemandangan yang paling menakjubkan. Pemandangan yang jauh lebih hebat dibanding pertunjukan sirkus yang tidak jadi kami tonton, bahkan dari pertunjukan apapun di muka bumi ini. 

Sejak saat itu aku meyakini bahwa pendidikan terbaik adalah tindakan, bukan kata-kata...