




KLINIK 2FA TAHUN 2011 AKAN KERJASAMA DENGAN DINAS KESEHATAN DAN RSUD ANSHARI SALEH BANJARMASIN DALAM PERSALINAN IBU MELAHIRKAN GRATIS BAGI YG TIDAK MAMPU
Antara Ponorogo, Ngawi dan Banyuwangi
OLEH : IFFAH IQBAL
Doa anak yang shaleh adalah salah satu diantara amal yang tidak pernah berhenti mengalir walaupun maut telah memisahkan. Banyak orang tua menganggap untuk menjadikan anak yang shaleh tidak perlu atau tidak ada kewajiban melaksanakan ibadah itu sejak anak itu masih kecil kecuali anak itu sudah akil baligh. Padahal dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa ketika anak kita masih kecil namun pada usia itu ia sudah mengerjakan amal-amal saleh maka pahala kebaikan akan mengalir untuk orang tuanya. Dan ketika anak itu memasuki usia akil balig maka pahala kebaikan itu akan tetap mengalir untuk orang tua dan anak itu sendiri tanpa ada istilah dibagi. Sungguh berbahagialah orang tua yang telah bisa mendidik anaknya sejak usia dini.
Namun bagi aku sendiri ada rasa ketidak mampuan untuk menjadikan anak shaleh yang mampu membendung tingginya arus globalisasi. Ketika anakku sudah duduk di bangku SD kelas VI aku merasa mempunyai beban dan seakan ada kekhawatiran untuk kelanjutan pendidikan bagi anak-anakku. Seiring berputarnya waktu seiring itu pula aku melihat betapa rapuhnya generasi muda yang seusia dengan anak-anakku telah terjerumus dengan berbagai persoalan yang sebenarnya belum layak mereka kerjakan. Di tengah malam di mana anak-anak seharusnya telah terlelap di perbaringan mereka banyak kujumpai melintasi jalan raya dengan berbondong-bondong mengendarai sepeda dengan memakai kaos yang bertulisan gang tertentu bahkan atribut tertentu yang menandakan bahwa ada genk lain selain mereka. Selain itu para remaja yang kutaksir usianya belasan tahun mengendarai sepeda motor dengan berboncengan dengan anak laki-laki seusia mereka sambil bercanda, padahal aku tahu mereka belum mempunyai SIM karena saat kutanyakan anak-anak itu belum berusia 17 tahun. Di hotel-hotel berbintang pun yang kebetulan ada mempunyai arena diskotik tak sedikit ku jumpai anak-anak seusia anakku namun berdandan ala orang dewasa. Sering aku bertanya dalam hati kemana orang tua mereka, apa mereka tidak mencari di mana anak mereka sekarang, apa para orang tua tahu keberadaan anak-anak mereka, atau kah para orang tua itu sudah lelap dengan mimpi-mimpi mereka atau mereka tidak perlu tahu di mana dan kemana anak-anak mereka. Sungguh ironis kehidupan sekarang ini bagaimana nasib bangsa ini kalau generasi sekarang ini sudah mengenal kehidupan malam yang tentunya sangat rentan dengan perbuatan yang bisa merusak masa depan mereka.
Pikiran itu terus menghantuiku bagaimana aku tidak khawatir, karena aku mempunyai anak yang juga sebentar lagi akan menyelesaikan studinya dan akan memasuki masa pubertas yang harus mempunyai filter agar tidak terjerumus kepada pergaulan yang sering aku saksikan. Tiap saat dan setiap akhir sholat aku selalu memanjatkan doa, agar Allah swt memberikan jawaban akan kegundahan hatiku. Dengan bertukar pikiran dengan suamiku akhirnya dengan petunjuk Allah kami berniat memasukkan anakku ke sebuah pesantren yang insya Allah mampu mengantarkan anakku menjadi anak yang saleh juga mampu membangun bangsa dan negeri ini dengan berakhlakul karimah. Subhannallah…dengan pilihan dia sendiri anakku menerima permintaan kami dengan pondok pilihan dia sendiri, karena kemampuan dia dengan tekhnologi canggih saat ini anakku sudah mempunyai kemampuan untuk mencari informasi lewat internet dia menentukan pilihan Gontor adalah pesantren yang ia pilih. Aku dan suami sampat tak percaya, karena Pesantren Gontor tidak termasuk dalam pesantren pilihan kami, tapi bagi kami berdua Gontor sangat familiar dan banyak dari keluarga kami merupakan alumni dari pondok modern ini. Mungkin ini adalah jawaban dari Allah swt untuk kami, dengan bismillah aku pun dan suami mengantarkan anakku ke Ponorogo. Sebuah kabupaten yang kutempuh hamper 5 jam dari kota Surabaya, rasanya aku tidak yakin bahwa anakku akan betah di kota sepi ini. Tapi bayangan itu harus ku tepis jauh-jauh, aku yakin ini adalah usaha syeithan yang mencoba menggodaku agar aku batal untuk memondokkan anakku di sana, dan aku pun berjuang dengan terus berdoa, agar aku bisa mengikhlaskan hatiku sebagaimana nabi Ibrahim yang bisa mengikhlaskan putranya Nabi Ismail untuk disembelih padahal anaknya Ismail adalah anak satu-satunya Nabi Ibrahim.
Setahun sudah berlalu, kini aku kembali ke kota ini untuk mengantarkan saudara sepupu anak dari budeku yang kebetulan ingin melanjutkan ke pesantren yang sama, di sini aku mengingat kembali perjuanganku dan para orang tua santri agar mereka bisa meyakinkan anak-anak mereka agar bisa menuntut ilmu di pondok ini. Derai tangis air mata para santri dan orang tua adalah hal yang biasa di pondok ini, terkadang sesama para kaum ibu memberikan dorongan dan semangat agar hati mereka bisa menerima dan mengikhlaskannya untuk melepas anak-anak mereka. Terkadang kujumpai santri yang menangis sesegukan, dan saat itu pula tak sendikit para wali santri membujuk anak-anak yang sudah ditinggal pulang orang tua mereka untuk tenang dan sabar. Dan kebersamaan dari berbagai macam suku dan keaneka ragaman bahasa tidak membatasi persaudaraan,bahkan persaudaraan itu kurasakan sangat kental di dalam pondok. Para wali santri yang kebetulan menjenguk anak mereka tak segan-segan meminjamkan telepon genggam mereka untuk menghubungi orang tua santri. Perjuanganku setahun yang lalu kini kutemui kembali, selain mengantarkan anak budeku ke Gontor 2 Ponorogo, aku juga kembali memperjuangankan tekadku untuk kembali mengikhlaskan anak keduaku memasuki pondok Gontor Puteri. Melihat tubuhnya yang kecil dan imut sebenarnya aku tidak tega, karena kalau dibandingkan dengan putraku yang pertama, anakku yang kedua ini sangat susah makan tapi kemauannya yang keras mampu meluluhkan perasaanku. Hati ibu yang mana yang sanggup berpisah dengan anak yang aku anggap masih memerlukan tenagaku untuk membantu keperluan sehari-harinya. Tapi dalam hati kecilku aku bangga terhadap puteri sulungku ini. Bagaimana aku tidak bangga, karena selama dikota kelahirannya anakku sudah mempunyai prestasi, selain pintar menyanyi anakku ini sering menjadi presenter anak di sebuah televise milik pemerintah. Tak jarang dia diundang disebuah acara yang tidak hanya dihadiri oleh para tokoh masyarakat juga pejabat setempat. Dan dari bakat itulah anakku sudah mempunyai penghasilan yang pada sesusiaku dulu aku tidak pernah meraihnya. Dan saat masuk pondok anakku masih dalam penyelesaian album rekaman lagu-lagu daerah bahasa banjar yang religi, sungguh kalau dia mementingkan materi mungkin dia akan menolak untuk masuk pondok. Tapi keyakinan hatinya bahwa selama ia memasuki pesantren ia akan mampu mengembangkan bakatnya. Dan selalu kuucapkan dan kupanjatkan doa pada keinginannya selalu kuberikan motivasi padanya bahwa selesai kamu di pondok aku yakin bahwa anakku akan menjadi infotaimen sejati yang mempunyai akhlak yang mulia, berkpribadian yang tangguh dan cerdas dan mampu berdakwah dengan bakat dan kemampuan yang ia miliki insya Allah. Amin.
Tak terasa hamper tiga hari aku berada di Gontor 2 puteri tempat menampung para calon santri sebelum mereke menempuh ujian masuk pada bulan Ramadan nanti. Di sinipun aku menemukan kembali perjuangan kaum bapa dan kaum ibu untuk memberikan spot kepada puteri-puteri mereka agar mereka bisa betah untuk tinggal di pondok yang dikenal dengan kedisiflinannya. Sungguh berat rasanya apalagi kalau anak-anak itu sudah terbiasa dengan kehidupan mereka yang serba dilayani baik oleh orang tua atau khadam mereka, kini mereka harus melayani diri mereka sendiri dan memanajemen keuangan sendiri bahkan mengerjakan pekerjaan yang sebelumnya belum pernah mereka lakukan. Dan sempat terlintas dalam benakku sungguh perjuangan itu tidak hanya dirasakan berat oleh para wali santri juga anak-anak karena dimana seusia anakku yang lulus SD seharusnya masih usia bermain dan bersenang-senang kini mereka harus bisa membagi waktu mereka untuk belajar dan mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh orang tua mereka, tapi aku yakin semakin berjalannya waktu mereka akan menikmati perjalanan hidup mereka seiring doa kebaikan yang tulus dan ikhlas yang terus mengalir setiap saat dan waktu dari kami para orang tua santri. Keyakinan itulah yang selalu menghiburku sehingga aku mampu menjalaninya seperti kehidupan biasa, karena ada ketidak yakinan dalam hatiku, seandainya anak-anakku berada di sampingku dan setiap kali perbuatan yang mungkin membuat aku marah tanpa sadar mungkin aku mengeluarkan kata-kata yang bisa menjadi doa, karena setiap kata-kata yang keluar dari mulut seorang ibu akan diamini oleh para malaikat auzubillah min jalik. Mudah-mudahan aku terhindar dari itu.
Kini perjalanan kuteruskan ke sebuah kota yang merupakan daerah perbatasan antara Jember dan Bali yaitu Banyuwangi. Selama hamper 18 jam aku tempuh perjalanan itu, karena tanpa sadar dalam perjalanan yang seharusnya aku tempuh kira2 12 jam harus kulewati lebih lama, karena permainan para supir yang tidak mengindahkan kenyamanan penumpang. Bis yang seharusnya melewati kota Banyuwangi di oper ke bis yang tidak melewati kota Banyuwangi, akhirnya ketika bis itu sampai di kota Jember aku kembali mencari bis tujuan banyuwangi
Dengan menggunakan bis tujuan Bali. Namun kerinduan hati seorang ibu untuk menjumpai anak laki-laki satu-satunya dikota itu tepatnya di pondok Darul Muttaqin Gontor 5 tidak membuatku berkecil hati, aku ambil hikmah dari semua itu mungkin aku bisa menikmati kota jember yang sangat indah pemandangan dalam tujuanku ke kota yang terkenal dengan ilmu hitamnya.
Enam bulan sudah aku tidak melihat wajah ganteng anakku. Pertama kali kumelihat tanpa sadar aku meneteskan air mataku. Kulihat binar kebahagiaan dalam matanya yang kulihat agak cekung mungkin kurang tidur, tapi wajah itu tampak bercahaya dengan sorot kepercayaan diri yang begitu kokoh aku temukan pada sorot matanya dan ketegaran hidup yang jauh berbeda ketika pertama kali aku antarkan dia ke pondok. Namun aku seakan terpaku melihat kemeja anakku yang lusuh dan seperti maaf seperti anak yang terurus. Singkat kata aku pun menangis dan mendekap dia dalam pelukanku dan tanpa sadar kata maaf berulang kali kuucapkan pada anakku, ya Allah maafkan hamba mengapa hamba tidak pernah menjenguknya sehingga kini aku menyaksikan sendiri penderitaannya, apalagi ketika aku melihat sepatunya yang sudah menganga dan terbuka dan terkoyak yang sebenarnya tidak layak lagi untuk di pakai. Tanpa membuang waktu akupun berlari ke depan pondok mengambil baju yang ingin kukecilkan dan membeli lem perekat untuk melem sepatu anakku yang saat itu mau masuk sekolah. Sesampainya di depan dia aku suruh dia mengganti kemejanya yang lusuh itu dengan kemeja baru yang aku bawa dan ku lem sepatunya itu dengan perasaan teriris dan saat itu aku melihat air mata meleleh di pipi anakku, saat kuhapus air matanya dan kutanyakan dengan lembut mengapa dia menangis, anakku pun menjawab dengan lirih dan terbata-bata, ma... maafkan aku ma, mama yang jauh-jauh datang menjenguk aku ternyata membuat mama bersedih, kalau boleh aku jujur lebih baik mama tidak datang karena aku tidak ingin mama melihat keadaan aku yang sebenarnya, aku ikhlas ma...aku tidak meminta uang terus walaupun barangku sering di ghasab, lebih baik aku begini apa adanya, tapi berkah kan ma, daripada aku mengghasab punya teman aku. Air mataku semakin tumpah seakan membasahi lapangan bola yang ada di pondok itu, ya Allah mengapa aku marah dengan keadaannya padahal anakku yang belum baligh itu mau menerima apa adanya dan ikhlas dengan kehidupan yang sekarang ia lakoni. Jujur aku telah kalah melangkah dan kini aku menangis bangga dan haru bahwa anakku yang dulu sangat manja tapi perasaannya sangat peka telah mengembuni hatiku dengan ucapan yang sangat sederhana tapi bersahaja dan mampu menggetarkan rasa keimananku kepada Yang Kuasa Ya Allah kutatap langit yang mulai menggayut senja dan samar kudengar bel tanda santri harus menuju mesjid untuk sholat berjamaah anakku pun pamit seraya mencium tanganku dan berjanji menemui kembali setelah mengaji katanya. Dengan berlalunya anakku berlalu pula kegalauan hati ini dan kecemasan hati, ya Allah aku mohon petunjukMu, aku mohon kekuatan hatiku untuk selalu percaya bahwa jalan yang telah Kau berikan kepada aku dan suamiku merupakan jalan yang telah Engkau beri rahmat dan inayah dan jawaban agar kelak anak-anakku menjadi pembimbing kami para orang tua santri menjadi penghuni surgaMU amin ya robbal alamin.
Biasanya, gemuk atau kurus senantiasa adalah topik utama kaum hawa, teman sekantor yang berbodi sexy sering kali dengan serta merta menjadi obyek yang dikagumi maupun menimbulkan iri hati.
Sedangkan di dalam 6 kebutuhan pokok masyarakat, yang agak dipersoalkan oleh kaum Adam adalah “otomotif”, dari membeli kendaraan sampai ke berkendaraan.
Barang siapa yang otomotifnya buruk, maka kemungkinan saja dianggap sebagai pecundang. Padahal sesungguhnya, tak peduli Anda memperbandingkan harta kekayaan, penampilan ataupun kedudukan, selalu saja akan ada yang lebih mengungguli, dan niscaya selamanya tak bakal ada habisnya.
Ardilles, penulis tersohor merangkap penerbit pernah mencatat dengan detail di dalam buku larisnya Kehidupan Paruh Bayaku bahwa ia dalam jangka waktu lama terbenam di dalam penderitaan yang menggelisahkan. Dan ia sarankan kepada pembacanya ialah, “Carilah sendiri tolok ukur kesuksesanmu”.
Cara mengatasi iri hati
1) Pilihlah bidang yang Anda kuasai
Psikologis Sherlock Weir menyatakan, “Tatkala Anda tak kuasa menyetop membandingkan, cobalah mengenang suasana masa lalu ketika berjaya di dalam bidang lain dan dengan pengalaman sukses tersebut untuk meredakan rasa iri hati.”
Jika dapat menemukan bidang dimana Anda dapat berekspresi, maka itu dapat secara aktif memperkuat keterkaitan Anda dengan kalangan tersebut. Seorang wanita yang mahir menunggang kuda, karena tekniknya bagus maka ditingkatkan dengan mengikuti lomba pacuan kuda profesional.
Di depan para pesaing, walau bisa saja secara spontan muncul perasaan iri hati, akan tetapi bersamaan dengan itu juga membangkitkan penampilan yang lebih baik di arena balap.
Cari keistimewaan diri sendiri, dengan sendirinya kepercayaan diri juga meningkat. Temukan wilayah dimana Anda bisa unggul, terkadang membutuhkan terus menerus bereksperimen dengan kesalahan. Jika bisa menemukan bakat diri sendiri, dan pada tempat yang tepat dapat mengembangkannya hingga maksimum, maka boleh dibilang Anda adalah jenius dalam berpikir positif !
2) Ubah kelompok
Pakar ekonomi, Robert Frank berpendapat, “Jika telah bosan menjadi orang termiskin di jalanan ini, maka pindahlah ke wilayah yang agak sederhana!”
Meskipun kita tidak mampu menekan cognitive diri sendiri, tetapi memiliki kebebasan mutlak untuk memilih teman, tetangga dan rekan kerja.
Mempertimbangkan mau ikut kelompok mana, mempengaruhi obyek dari rasa iri hati atau pengidolaan kita, tetapi pengendalian diri dalam membandingkan dengan orang lain adalah semacam metode modifikasi yang baik.
Walaupun dengan mengubah kelompok bergaul membutuhkan harga cukup mahal, sepenuhnya tergantung bagaimana Anda mengukurnya. Misalkan saja, apakah Anda rela menjadi ujung tombak penyerang di klub sepak bola tak terkenal? Ataukah sebagai pemain cadangan di klub sepak bola tersohor ?
Di klub sepak bola bergengsi, barangkali saja Anda akan mendapatkan juga undangan ke acara resepsi dan memperoleh tempat duduk yang tak penting di pergaulan kalangan atas, namun orang yang jeli bisa menilai sebenarnya Anda berbobot atau tidak.
3) Menemukan tempat di lingkungan budaya yang lebih kecil
Meski tidak mudah untuk segera pindah pekerjaan atau mencari rumah, Anda bisa saja mencari beberapa lingkungan budaya kecil, menemukan diantaranya kelompok gaul yang Anda inginkan.
Misalnya David Brooke, kolumnis New York Times mengambil Amerika sebagai contoh, “Amerika bukanlah negara dengan konsep kelas yang kuat, secara lebih mendasar, ia sebenarnya kumpulan dari berbagai kelompok independen, setiap kelompok memiliki ciri yang mereka sukai.”
Misalkan saja, diantaranya bisa ditemukan ekstremis anti pemanasan global, penggemar olah raga terukur, atau penggila musik jazz dan lain sebagainya. Di dalam lingkungan tersebut mengekspresikan diri semestinya tidak terlalu sulit. Tak peduli posisi kewenangan Anda di dalam situ bagaimana, kelompok-kelompok itu akan memperkokoh konsep nilai dan rasa kebersamaan Anda.
Komunikasi antar kelompok-kelompok kecil ini juga cukup terbatas. Suatu perubahan kekuasaan, bagi orang dalam boleh dibilang kemungkinan adalah menggemparkan, tetapi bagi orang luar yang meneliti dari arah luar, bagaikan bersendawa yang sama sekali tidak berarti. Seperti psikolog yang menyukai orang lain menggunakan namanya sebagai referensi formulir psiko-test, walaupun jarang ada orang yang akan memperhatikan nama siapakah gerangan ini.
4) Lebih baik sebagai kepala ayam daripada sebagai ekor sapi
Di depan mata terdapat 2 pilihan, satu ialah menjadi pengacara di desa, orang di komunitas itu mengenal diri Anda, bahkan papan nama di depan pintu tertera nama Anda. Ataukah menjadi salah seorang pemegang saham yang kosong di sebuah biro konsultan pengacara besar, maka Anda akan memilih kehidupan yang mana?
Tak dapat dipungkiri, banyak orang seringkali di dalam lingkungan kecil lebih bisa berkembang.
Robert Frank memberi contoh seorang temannya yang meski prestasinya saat remaja tidak menonjol, nilainya tidak mampu membawanya masuk ke sekolah ternama di kota, terpaksa beralih ke sekolah negeri di pedesaan.
Tak dinyana di sekolah desa ia malah bagaikan ikan yang memperoleh air, akhirnya ia diterima di sebuah Perguruan Tinggi yang termasyur. Sesudah menjauhi lingkungan besar, apabila bisa dengan cara inovatif atau lateral (berbalikan) mengembangkan jalan keluar sendiri yang unik, sejak saat itu nasib seumur hidup mungkin sudah bisa diubah.
5) Semakin matang seiring bertambahnya usia
Mengenal poin ini sangat penting, ia juga adalah pedoman orang-orang untuk menekan iri hati. Survey membuktikan, kebiasaan membandingkan, akan berangsur berkurang seiring dengan pertambahan usia.
“Sewaktu ibu saya masih muda, sangat iri hati terhadap kawan-kawan wanitanya.” Sarah S. mengenang. Sampai pada suatu hari ibu Sarah yang berusia 60 tahun mengungkapkan, persahabatannya dengan kawan-kawan lamanya itu semakin lama bagaikan saudara kandung. Dia baru merasakan peningkatan pemahaman terhadap sanubari sang ibu. Ketika wanita itu telah melampaui masa kematangannya yang penuh energi, kecenderungan iri hati terhadap rekan sesama perempuan akan semakin surut.
6) Mencipta rasa aman sejati
”Soroton mata Anda seyogyanya alihkan dari orang lain, taruhlah alat pendeteksi itu pada hati Anda dan periksalah dengan teliti, carilah benih keiri-hatian di dalamnya, hapuskan suara yang usang serta pengalaman yang telah lampau.
"Pusatkan segenap hati Anda, dengan baik-baik bentuklah perasaan aman yang sejati pada emosi dan pribadi Anda!” demikian kata Jennifer James di dalam buku Perjalanan Nurani.
Tatkala rasa iri hendak bergerak, pikirkan dahulu hal apa yang memang betul-betul penting bagi Anda? Apakah merupakan target Anda sendiri? Bisa mencapai apakah kemampuan dan sumber daya Anda? Itu bisa membantu Anda lepas keluar dari persaingan psikologis, dengan kepala tegak dan langkah tegap melangkah menuju kehidupan milik anda sendiri.
7) Pahami kesejatian hidup
Ini adalah pedoman tertinggi menyelesaikan rasa iri hati . Manusia hidup di dunia, memiliki hawa nafsu dan rasa sentimental, semuanya secara naluri ingin hidup dengan lebih baik, bisa hidup dengan lebih terpandang dan terhormat.
Justru karena manusia memiliki angan-angan, dalam hati kecilnya bisa tumbuh rasa sentimental berupa cinta dan benci, ini adalah daya penggerak timbulnya iri hati.
Apabila seorang manusia bisa menyadari, bahwasanya manusia hidup di dunia, tujuannya sesungguhnya bukan demi hidup dengan lebih baik, dengan lebih terpandang dan terhormat, melainkan demi kembali ke jati diri yang asli/suci, balik ke sifat pokok alami manusia.
Jika bisa mengenali hal ini, maka perolehan dan kehilangan dalam hal materi dan kepuasan terhadap hawa nafsu dan rasa sentimental menjadi tidak begitu penting lagi, maka akan mampu mengurangi hingga menghapus daya gerak timbulnya iri hati.
Tentu saja cara melalui pemahaman kesejatian hidup hingga berhasil mengendalikan iri hati, bukannya dengan mudah dapat dilakukan oleh setiap orang, namun jika Anda benar-benar mau bertekad mengatasi iri hati, maka selain merupakan cara yang efektif, juga merupakan pedoman tertinggi yang bisa menuntaskan masalah iri hati.LENTERA KEHIDUPAN
RAHIM AUDAH
(MOTIVATOR ZAKAT 2FA TERSENYUM )
Cerita di bawah ini saya angkat dalam dialog interaktif tentang problema kehidupan di RRI Banjarmasin setiap sabtu malam pukul 22.00 s/d 23.45 wita
Alkisah, suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari mengunjungi sahabatnya yang sedang sakit.
"Hai sobat, aku pulang dulu ya, cepat sembuh deh biar lain kali kita bisa ngobrol lebih lama lagi."
"'Bentar, aku ambilin lentera dulu ya," sahut temannya.
"Hahaha....buat apa lentera? Lentera sebesar orang pun aku juga nggak bisa lihat. Sudahlah, aku pasti bisa pulang kok!"
"Di luar sudah gelap. Lentera ini untuk orang lain agar bisa melihat kamu, supaya mereka tidak menabrakmu," jawab sahabatnya dengan lembut.
Akhirnya si buta pun membawa lentera itu dalam perjalanan pulangnya.
Tak berapa lama, ada seorang pejalan kaki yang menabraknya. Dalam kagetnya dia berseru:
"Hai! Kamu kan punya mata, beri jalan buat orang buta dong!"
Si penabrak tidak ambil peduli, dan berlalu begitu saja.
Tidak terlalu jauh berjalan, seorang pejalan lainnya kembali menabrak si buta. Kali ini si buta mengumbar marahnya.
"Hai! Apa kamu buta? Tidak bisa melihat ya? Aku membawa lentera ini supaya kamu bisa lihat dan tidak nabrak orang."
Pejalan kaki itu dengan sengit menjawab,"Kamu yang buta! Lihat tuh, lenteramu padam!"
Keduanya sama-sama tertegun.
Si penabrak yang menyadari situasi segera berkata, "Oh oh, maaf. Sayalah yang 'buta', saya sungguh tidak melihat kalau Anda adalah orang buta."
"Tidak, tidak apa. Saya tidak tahu kalau lentera ini padam. Maafkan kata-kata2 kasar saya," jawab si buta tersipu malu.
Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali lentera yang dibawa si buta, dan kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.
Pada saat yang bersamaan, seorang pejalan kaki kebetulan berada di dekat situ. Dalam keremangan malam, nyaris saja dia menabrak mereka. Dalam hati dia berkata, "Rasanya lain kali aku harus membawa sebuah lentera juga. Jadi aku bisa melihat jalan dengan baik dan orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka."
Pembaca yang budiman,
Cerita tadi sesungguhnya mewakili berbagai karakter manusia. Si buta diselubungi kegelapan batin, keangkuhan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain dan tidak mau mengakui kebebalannya. Tetapi di dalam perjalanan "pulang", dia belajar menjadi bijak. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.
Penabrak pertama mewakili ketidakpedulian dan kurang kesadaran. Sedang penabrak kedua mewakili kondisi manusia pada umumnya: saat menyadari kesalahan, segera meminta maaf dan berusaha memperbaikinya.
Lentera melambangkan sinar dan terang!!! Dalam bahasa spiritual melambangkan sebagai kebijaksanaan.
Setiap manusia selayaknya menjadi lentera dan terang bagi dirinya sendiri, mampu melindungi diri sendiri, menghindarkan diri dari mara bahaya serta membawa terang bagi insan di sekitarnya.
Karena sesungguhnya, sejuta lentera dapat dinyalakan dari sebuah lentera, tanpa meredupkan sedikit pun terang cahayanya. Demikian pula dengan lentera kebijaksanaan, tak kan pernah habis terbagi.